Unduh Aplikasi
WTP Pemerintah Aceh 2019

Sampah di Muka Kita

Sampah di Muka Kita
ilustrasi: invex news

“URUS sendiri sampahmu”. Demikian pesan yang disampaikan pemerintah di kota-kota di Jepang kepada seluruh warganya. Namun bukan berarti kota di Negeri Sakura itu menjadi kotor. Ini adalah peringatan kepada warga agar mengambil tanggung jawab dari sampah yang mereka produksi.

Untuk urusan sampah, Jepang memang melek. Pemerintah membuat kebijakan yang mampu menumbuhkan kesadaran di tingkat masyarakat. Tanggung jawab mengurus sampah tak hanya menjadi beban pemerintah.

Di beberapa kota di negara itu, sampah dan limbah mencapai level zero waste. Artinya, seluruh sampah dan limbah didaur ulang; tak ada yang terbuang. Semua diolah menjadi kertas hingga tenaga listrik.

Di dalam negeri, Kediri, sebuah daerah di Jawa Timur, Kabupaten Kediri, memulai langkah progresif--walau sebenarnya telat--dengan menjatuhkan sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Lewat sebuah peraturan daerah, siapa saja yang membuang sampah sembarangan di Kediri akan didenda atau menyapu jalan setengah kilometer sebagai hukuman.

Larangan membuang sampah sembarangan juga berlaku di Banda Aceh. Sejak awal tahun, Pemerintah Kota Banda Aceh memberlakukan Qanun Kota Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Sampah. Bahkan di kota ini, sanksi yang diterapkan lebih berat. Pelanggar diancam pidana kurungan atau denda Rp 10 juta.

Memang hingga saat ini, aturan itu seperti tak ada. Di jalanan, trotoar, dan selokan, sampah masih berserakan dan menumpuk. Dan memang, aturan ini tidak bisa menyulap Banda Aceh menjadi sebuah daerah yang bersih. Namun kita tentu tak bisa membiarkan sampah-sampah itu menumpuk di hadapan muka kita. 

Namun pemerintah kota juga jangan kehilangan akal. Karena tujuan aturan ini adalah mengubah cara pikir masyarakat dalam mengelola sampah. Aturan-aturan pidana dan denda besar, dengan penegakan yang gahar dan sangat birokratis, bisa diganti dengan aturan yang lebih mendidik dan benar-benar mengubah kesadaran.

Untuk hal ini, pemerintah kota mungkin bisa meniru Kediri yang memberlakukan kerja sosial. Menyapu jalan jelas bukan pekerjaan sembarangan. Tidak semua orang bisa melakukannya. Menyapu jalan bagi para pelanggar ringan, seperti membuang sampah di jalanan, mungkin cukup membuat dia menghargai betapa “mahal” jasa para penyapu jalan.

Sementara di desa-desa, pemerintah kota harus mulai mengedukasi pentingnya memilah sampah sebelum mengeluarkan sampah dari rumah. Dan aturan ini harus dijalankan dengan konsisten dan tidak pandang bulu agar perubahan sikap warga kota benar-benar terwujud. Membayangkan Banda Aceh tanpa sampah memang sulit, tapi ini bukan sesuatu yang mustahil.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...