Unduh Aplikasi

Rekomendasi Bank Indonesia untuk Pengembangan Ekonomi di Aceh Barat

Rekomendasi Bank Indonesia untuk Pengembangan Ekonomi di Aceh Barat
Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, dengan Bupati Aceh Barat, Ramli MS. Foto: Ist

ACEH BARAT - Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, mengungkapkan secara umum, kinerja perekonomian Aceh Barat dalam lima tahun terakhir terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi Aceh Barat secara rata-rata adalah sebesar 5,58 persen atau lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh, 2,18 persen.

Ia menjelaskan perekonomian di Aceh Barat terutama bertumpu pada sektor pertanian dan perikanan yakni 31 persen, perdagangan 16 persen, konstruksi 11 persen, administrasi pemerintahan 10 persen, serta pertambangan dan penggalian 8 persen.

"Sejak tahun 2018, laju inflasi yang di Meulaboh secara umum tercatat lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi yang terjadi di kota perhitungan inflasi lainnya (Banda Aceh dan Lhokseumawe) maupun terhadap Provinsi Aceh secara keseluruhan," kata Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan Pemkab Aceh Barat, Selasa (30/4) di Ruang Rapat Bupati Aceh Barat.

FGD tersebut diikuti oleh pimpinan SKPK terkait, antara lain Asisten II, Kepala Bappeda, Kepala Bagian Ekonomi, Dinas Perikanan, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Arifin juga mengungkapkan beberapa komoditas yang seringkali menjadi penyumbang utama inflasi di Aceh Barat yaitu ikan tongkol, cabai merah, dan bawang merah.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi Aceh Barat di bidang ekonomi yaitu bagaimana memperbaiki tingkat pengangguran dan kemiskinan, menjaga inflasi pada level yang rendah dan stabil, meningkatkan indeks pembangunan manusia, meningkatkan investasi dan mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan, serta mengoptimalkan penggunaan APBK dan pengelolaan sumber daya alam.

Dalam kesempatan tersebut, Arifin Lubis, menyampaikan rekomendasi kepada Bupati Aceh Barat, Ramli MS, mengenai langkah-langkah strategis yang dapat diambil guna mengatasi tantangan dalam pengembangan ekonomi Aceh Barat.

Selain itu, disampaikan pula pentingnya sinergi antara Pemkab Aceh Barat dengan instansi/lembaga terkait untuk mendorong sektor unggulan daerah dalam rangka pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh Barat.

Dalam kegiatan itu, juga dilakukan diskusi untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh Pemkab Aceh Barat dan rekomendasi solusinya. Beberapa rekomendasi yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada Pemkab Aceh Barat, yaitu:

1. Alokasi APBK dilakukan berdasarkan data dan kajian/penelitian, sehingga sektor-sektor utama yang memiliki daya ungkit ekonomi besar dapat lebih diprioritaskan. Dalam hal ini, salah satu kajian yang dapat menjadi referensi yaitu hasil penelitian komoditas, produk/jasa unggulan (KPJU) yang telah dilakukan Bank Indonesia bekerja sama dengan perguruan tinggi.

2. Untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan, perlu dilakukan pemberdayaan UMKM dengan meningkatkan kapasitas UMKM melalui pemberian bantuan saprodi, pelatihan, dan pendampingan, memberikan kemudahan perizinan, meningkatkan akses pembiayaan serta perluasan akses pemasaran. Terkait hal ini, Bank Indonesia selama ini telah berperan aktif dalam meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada UMKM serta menghimbau perbankan untuk menyalurkan kredit pada sektor produktif.

3. Selain itu, Bank Indonesia juga aktif membantu UMKM memperluas akses pemasaran melalui fasilitasi keikutsertaan UMKM dalam pameran berskala nasional dan internasional maupun dengan memanfaatkan jejaring yang dimiliki Bank Indonesia di dalam dan luar negeri.

4. Optimalisasi peran TPID melalui koordinasi dan kolaborasi antar anggota TPID yang dilakukan secara berkala dan terintegrasi, sehingga program kerja masing-masing anggota TPID dapat lebih tepat sasaran, misalnya operasi pasar dengan waktu, lokasi dan komoditas yang tepat.

5. Peningkatan kualitas pengajar dan ketersediaan prasarana pendidikan untuk disiplin ilmu yang sesuai dengan keunggulan daerah, seperti dosen ahli dan laboratorium pertanian dan perikanan untuk menunjang sektor pertanian dan perikanan yang merupakan sektor unggulan Aceh Barat. Selain itu, perlu revitalisasi peran sekolah vokasi dalam menyediakan tenaga kerja yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar.

6. Optimalisasi SDA yang ada melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah, antara lain dengan pemanfaatan lahan tidur dan pengembangan sektor industri pengolahan agar output yang dihasilkan bukan lagi bahan mentah, melainkan barang setengah jadi atau barang jadi. Hal ini akan berdampak pada penambahan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

7. Perlu diupayakan peningkatan investasi melalui penciptaan iklim investasi yg kondusif dan strategi promosi yang tepat. Beberapa hal yg menjadi pertimbangan imvestor dalam berinvestasi adalah: kondisi perekonomian, kebijakan pemerintah setempat, regulasi, isu ketenagakerjaan, keamanan, infrastruktur, serta potensi yang dimiliki.

8. Perlu ditingkatkan sinergi program antara Pemkab Aceh Barat dengan instansi/lembaga terkait untuk mendorong sektor unggulan daerah dalam rangka pengendalian inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

9. Sinergi program yang dapat dilakukan misalnya antara program Bank Indonesia dengan SKPK Aceh Barat maupun dengan instansi/lembaga vertikal terkait seperti TNI untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian, peternakan, dan perikanan yang merupakan sektor unggulan Aceh Barat.

Komentar

Loading...