Unduh Aplikasi

Rahmad dan Raisa Wakili Aceh ke Ajang Putera-Puteri Kebudayaan Indonesia 2019

Rahmad dan Raisa Wakili Aceh ke Ajang Putera-Puteri Kebudayaan Indonesia 2019
Rahmad dan Raisa. Foto: Ist

LHOKSEUMAWE - Sepasang muda-mudi asal Kota Lhokseumawe lolos mewakili Provinsi Aceh untuk mengikuti ajang pemilihan Putera-Puteri Kebudayaan Indonesia yang akan dilaksanakan di Jakarta.

Kedua putera-puteri tersebut yakni, Raisatul Gebrina (20), asal Meunasah Masjid, Cunda, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, juga mahasiswi Unsyiah. Dan Rahmad (27), asal Gampong Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, alumni mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh.

Raisa dan Rahmad mengaku awal mula mendaftar mengikuti audisi tersebut secara online pada pertengahan April 2019 lalu, kemudian keduanya dihubungi dan mendapatkan pemberitahuan bahwa mereka lolos mewakili Provinsi Aceh ikut Putera-Puteri Kebudayaan Indonesia.

“Jadi setelah lolos, kami langsung diwawancara melalui telepon seluler. Adapun pertanyaannya menyangkung tentang wawasan kebudayaan, motivasi serta tujuan serta beberapa pertanyaan terkait lainnya,” kata Raisa didampingi Rahmad kepada AJNN, Kamis (13/6).

Sambungnya, keduanya akan mengikuti karantina pada 18 Juni hingga 25 Juni 2019 mendatang. Sementara itu, mereka mengaku untuk tempat karantina sendiri sejauh ini belum diumumkan oleh pelaksana akan diselenggarakan dimana.

“Sebelum keberangkatan, kami sedang mempersiapkan advokasi yang akan kami bawa ke sana, yakni seni tari Aceh dan juga adat peu Ayoen Aneuk. Rahmad sendiri akan memperkenalkan seni tari Aceh seperti, Rapai geleng, Sedati, Tari Ratoh juga Saman dan Raisa akan mengenalkan Adat Peu Ayoen Aneuk,” ungkap Raisa.

Tambahnya lagi, sementara persiapan kontum sendiri dari desainer asal Kota Banda Aceh. Kostum tersebut juga akan dipresentasikan saat mengikuti kegiatan kebudayaan tersebut. Keduanya juga mengaku saat ini kendala yang dialaminya yakni dari segi anggaran. Meskipun, selama ini sudah meminta rekomendasi dari sejumlah intansi baik swasta maupun pemerintah.

“Anggaran masih terkendala, mudah-mudahan Pemerintah Daerah maupun pusat mau ikut membantu, untuk biaya keberangkatan dan selama karantina,” ujar Raisa.

Keduanya mengaku motivasi awal mengikuti ajang tersebut yakni supaya muda-mudi Aceh peduli terhadap kebudayaan sendiri. Pasalnya, selama ini kebudayaan di Aceh sendiri sudah terjun ke kebarat-baratan, sehingga budaya Aceh sendiri tergeser dengan daerah luar.

"Dengan mengikuti kegiatan ini bisa memberikan dampak positif, bahwa mencintai budaya sendiri tidaklah kuno. Jadi, kami juga bertujuan untuk meningkatkan kecintaan tentang kebudayaan dari Sabang sampai Marauke, dengan menjadi Putera-Puteri Indonesia khususnya perwakilan Aceh suaranya lebih terdengar sehingga menjadi inspirasi terhadap budaya yang kita punya," jelas Raisa atau kerap dipanggil Echa.

Selain itu, lanjut Echa, Aceh juga dikenal dengan nuansa Islami. Oleh karena itu, mereka ikut kegiatan itu bertujuan mengangkat budaya yang kental dengan Islami itu.

"Kami berpesan kepada muda-mudi Aceh, supaya meningkatkan lagi kecintaan terhadap budaya dan seni yang ada di Aceh, supaya menjadi warisan dunia, seperti tari Saman dan Ratoh," ujarnya.

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin

Komentar

Loading...