Unduh Aplikasi

Proyek Irigasi Alue Diam Mangkrak, GeRAK Minta Aparat Hukum Turun Tangan

Proyek Irigasi Alue Diam Mangkrak, GeRAK Minta Aparat Hukum Turun Tangan
Pemenang tender proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

ACEH BARAT - Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat menemukan pembangunan Irigasi yang pekerjaannya tidak diselesaikan oleh rekanan, akibatnya proyek yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 2,1 miliar tersebut terbengkalai, sehingga tak bisa dimanfaatkan.

Berdasarkan data GeRAK, proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat, tersebut merupakan kegiatan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Barat tahun 2016, yang berada di bawah Dinas Cipta Karya dan Pengairan Aceh Barat. Adapun rekanan pekerjaan tersebut dimenangkan oleh CV Ababil dengan nilai kontrak Rp 2,1 miliar.

Kondisi proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

Bedasarkan penelusuran di lapangan, konstruksi jaringan irigasi tersebut belum berfungsi sejak dibangun. Saat ini, kondisi pintu air ditumbuhi semak belukar, tiang besi untuk dinding bangunan irigisi tidak tercor, sehingga sudah karatan, begitu juga dengan dinding beton bangunan yang berfungsi sebagai dinding irigasi tidak tuntas pembangunannya. Kondisi ini mengakibatkan saluran air tidak berfungsi untuk mengairi sawah warga.

Kondisi proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edi Syah Putra mengatakan akibat proyek tersebut yang mangkrak, seratusan hektare lahan persawahan produktif di Kecamatan Woyla Timur, mengalami keleringan. Sehingga sangat sedikit petani yang turun ke sawah di musim tanam Gadu 2018 ini.

Baca: GeRAK: Proyek Rekonstruksi Jembatan Gantung Cot Punti Diduga Asal Jadi

“Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, hanya ada 10 kepala keluarga (KK) yang tetap nekad untuk menanam padi. Padahal dari 97 KK masyarakat Desa Cot Punti, 85 persen mata pencarian utamanya sebagai petani. Hal ini mengakibatkan hanya 6 hektare lahan sawah saja yang digarap oleh pemilik dari 50 hektare lebih sawah produktif,” ungkap Edi Syah Putra kepada AJNN, Sabtu (29/9).

Kondisi proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

Padahal, kata Edy, masyarakat sangat berharap adanya pembangunan Irigari Alue Diam ini dapat mengairi secara merata ratusan area sawah milik petani, melingkupi tiga desa yaitu Cot Punti, Aleu Empek, dan Pasi Jenang.

“Harapan warga dengan berfungsinya irigasi tersebut dapat mengairi secara merata dan terus menerus areal persawahan mereka yang berada di tiga desa yang luas arealnya mencapai ratusan hektare,” ungkap Edi.

Baca: Sepekan Selesai Dikerjakan, Tanggul Rp 4 Miliar Ambruk ke Sungai

Tak hanya itu, Edi juga mengungkapkan anggaran untuk pembangunan Irigasi Alue Diam ini sudah dianggarkan sejak tahun anggaran 2014 oleh Dinas Cipta Karya dan Pengairan sebesar Rp 500 juta yang dikerjakan oleh CV Araya Sove dengan nilai kontrak sebesar Rp 467 juta.

Kondisi proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

Bahkan, kata Edi, tahun ini Pemerintah Kabupaten Aceh Barat kembali menganggarkan anggaran untuk kegiatan yang sama yaitu peningkatan Jaringan Irigasi Alue Diam sebesar Rp 300 juta melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh Barat.

Kondisi proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

“Kami mendapatkan data bahwa Irigasi Alue Diam ini sudah dianggarkan sejak tahun 2014, nilainya Rp 500 juta, juga tahun ini kembali dianggarkan Rp 300 juta,” ujar Edi.

Untuk itu, Edi meminta kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia untuk melakukan audit investigasi atas proyek Irigasi Alue Diam ini.

Pemenang tender proyek peningkatan jaringan Irigasi D.I Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat. Foto: Ist

“Kami menduga adanya tumpang tindih anggaran dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Total anggaran yang sudah dilaksanakan untuk dua tahun anggaran mencapai Rp 2,7 miliar, apabila ditambah dengan anggaran tahun ini, berarti total keseluruhan mencapai Rp 3 miliar. Jangan sampai terjadi tumpang tindih anggaran,” tegas Edi.

Komentar

Loading...