Unduh Aplikasi

Protes Pemenang Lomba Tari FL2SN Berbuntut Panjang, Dua Guru Dilaporkan ke Polisi

Protes Pemenang Lomba Tari FL2SN Berbuntut Panjang, Dua Guru Dilaporkan ke Polisi
Dua Guru SD Negeri 2 Meulaboh, Evi Susanti (Kiri), Melda Sari (Kanan), saat menunjukkan surat panggilan polisi. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Protes terhadap pemenang kelompok SD Negeri 2 Meulaboh dalam event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) berbuntut panjang. Pasalnya setelah muridnya dibatalkan sebagai juara, kini giliran gurunya harus berhadapan dengan polisi.

Dimana, dua guru SD Negeri 2 Meulaboh resmi dilaporkan ke pihak Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat oleh pelatih tari Guru SD Negeri 24 Meulaboh, Susan Handayani. Kedua guru yang dilaporkan tersebut yakni Melda Sari dan Evi Susanti, atas dugaan pencemaran nama baik terhadap pelopor (Susan Handayani).

Dalam surat panggilan terhadap kedua guru tersebut, kedua guru tesebut diduga telah melanggar pasal 45 ayat 3 Jouncto pasal 27 ayat 3 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Infomasi dan Transaksi Elektronik.

Usai menghadiri pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik kepolisian, Melda merasa bingung dengan laporan Susan, kepada pihak kepolisian dengan dugaan pencemaran nama baik.

“Jadi saya mendapatkan ini (panggilan polisi) atas dugaan pencemaran nama baik terhadap Susan, pelatih SD Negeri 24 Meulaboh. Sudah diperiksa untuk hari ini, selanjutnya ada satu dari sekolah, yaitu ibu Evi Susanti,” kata Melda.

Baca: Penyebab SD Negeri 2 Meulaboh Dibatalkan sebagai Pemenang

Secara pribadi, Melda mengaku tidak pernah melakukan caci maki, dan juga menyebarkan berita bohong maupun penghinaan terhadap Susan. Menurutnya, pada tanggal 6 Agustus, ia memang sempat membagikan berita dari media AJNN yang berjudul "Penyebab SD Negeri 2 Meulaboh Dibatalkan sebagai Pemenang" ke akun facebooknya.

Pada berita tersebut, ia menuliskan klarifikasi pada status atas komentar Susan yang berisikan terkait persoalan protes wali murid, bukan persoalan tekhnis, namun lebih psikologis siswa pascapembatalan.

“Dalam komentar itu saya memang menyebutkan nama Susan. Dan saya menyebut nama Susan sesuai dengan isi dalam berita, yang ada nama dia dalam berita itu. Dan karena saya sebut nama dia, ini saya dipolisikan dan ditanyakan masalah nama dia sama penyidik,” kata Melda.

Melda mengatakan tidak mungkin menyebutkan nama Susan dalam status facebooknya kalau dalam berita itu bukan Susan narasumber yang mengklarifikasi protes wali murid atas pembatalan itu.

"Lantaran dalam berita tersebut menyebutkan nama pelatih tari SD Negeri 24 itu, menurut saya tidak ada pencemaran nama baik serta unsur pelanggaran UU ITE di dalamnya, apalagi yang saya sebarkan merupakan berita yang dimuat dalam media massa dan telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers," ungkapnya.

HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...