Insentif PKB - BPKA 2019
Unduh Aplikasi

Prostitusi di Sekitar Kita

Prostitusi di Sekitar Kita
ilustrasi.

PROSTITUSI adalah salah satu kejahatan tertua di dunia. Di era digital ini, keberadaannya semakin mudah didapati, bahkan di negeri syariat Islam, seperti di Aceh. Di Aceh Barat, sepasang suami-istri menjalani profesi sebagai mucikari--mereka berdalih tidak punya pekerjaan--dan melibatkan anak di bawah umur untuk melayani lelaki hidung belang.

Kondisi ini sebenarnya tak hanya terjadi di Aceh Barat. Di Banda Aceh, di seputaran Simpang Lima, misalnya, dengan menggunakan jejaring sosial tertentu, para lelaki hidung belang dapat dengan mudah mencari para pekerja seks. Cukup dengan mengaktifkan jejaring tersebut, maka akan muncul “cewek-cewek” yang siap melayani jika tercapai kesepakatan.

Bisnis ini tidak hanya sekadar kejahatan. Ini adalah penindasan yang terang-terangan dan terus mencari bentuk; menyesuaikan diri dengan zaman. Namun tetap saja, perempuan dan anak-anak adalah pihak yang paling merasakan dampaknya.

Sayang, eksploitasi terhadap mereka masih saja terjadi dan terus diabaikan. Penindasan ini dianggap sebagai hal wajar. Padahal bisnis layanan seks mendorong penjualan manusia. Banyak anak kampung yang ditawarkan pekerjaan di ibu kota, namun ternyata mereka harus rela menjadi “mesin pemuas nafsu.

Kejahatan ini juga sangat terorganisir. Perempuan dan orang tua banyak yang terjebak karena mereka berutang, baik materi atau berutang budi. Lantas, sebagai barter, orang tua atau perempuan dipaksa untuk menggadaikan harga diri mereka.

Gadis-gadis muda diiming-imingi angin sorga. Ditawarkan sebuah barang-barang mewah atau sekadar uang mudah. Kondisi ini juga terjadi di kantor-kantor, entah itu pemerintahan atau kantor swasta. Para atasan yang berupaya memainkan pengaruh agar si perempuan mengikuti hasrat seksualnya.

Kita mengapresiasi kinerja polisi dalam mengungkap praktik prostitusi di Aceh Barat. Namun kita juga berharap agar polisi mengungkapkan orang-orang yang menggunakan “jasa” mereka. Menangkap dan menjerat mereka dengan hukum, hingga tuntas. Polisi harus memberangus “pasarnya”, agar tak ada lagi orang yang mencoba bermain-main dengan hak dan harga diri manusia yang lain.

Khanduri Laot

Komentar

Loading...