Unduh Aplikasi

Petuah Wali untuk Nanggroe

Petuah Wali untuk Nanggroe
PYM Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar. Foto: acehonline

PESAN Paduka yang Mulia Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar pada pertemuan dengan aktivis Wahana Lingkungan jelas. Dia meminta seluruh elemen menjaga keberadaan hutan sebagai upaya menghindarkan daerah ini dari bencana ekologi yang terus merundung.

Tak hanya itu, Wali Nanggroe juga menegaskan bahwa kerusakan hutan mendorong peningkatan jumlah konflik satwa-manusia. Hal ini sangat berdampak pada berkurangnya jumlah satwa kunci di Aceh. Padahal Aceh merupakan satu-satunya daerah tersisa di Sumatera yang memilik tutupan hutan yang baik.

Sebagai “tetua” di daerah ini, pernyataan Wali Nanggroe Malik Mahmud harusnya didengarkan dan diterapkan dalam pembangunan Aceh. Pesan agar pembangunan Aceh dijalankan berbasis ekologi harusnya bisa diaplikasikan oleh Pemerintah Aceh dalam menjalankan programnya.

Salah satunya adalah pembangunan berdasarkan koridor empat satwa kunci di Aceh, yakni gajah, harimau, badak dan orangutan. “Jalur tol” hewan-hewan ini sangat penting bagi keberadaan hutan dan sumber air di Aceh. Semua ini bermuara pada kesejahteraan masyarakat Aceh dalam jangka panjang.

Istilah manusia lebih berharga ketimbang hewan-hewan ini harusnya tidak menjadi alasan bagi pembangunan yang membuka ruang hutan dengan membabi buta. Pertambangan, pertanian, dan perkebunan memang penting bagi hajat hidup orang banyak. Namun itu bukan faktor utama.

Aceh mempunyai modal besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata alam. Satu di antaranya adalah wisata migrasi gajah. Wisata ini akan menarik kunjungan wisatawan, terutama dari luar negeri, karena hanya di Aceh migrasi gajah liar dapat disaksikan dengan mata telanjang.

Kepunahan gajah liar di Sumatera Utara harusnya menjadi pelajaran penting bagi kita untuk menjaga hutan dan koridor satwa ini tetap utuh, tidak terputus oleh pembangunan jalan atau pembukaan lahan. Aceh harus belajar untuk menahan diri untuk tidak mengumbar sumber daya alam dan mulai merancang pembangunan yang memprioritaskan keberadaan hutan jika tak mau mengalami hal sama seperti di Sumatera Utara.

Petuah Wali Nanggroe Malik Mahmud harusnya bisa diterjemahkan dalam program-program pembangunan Aceh yang rahmatan lil alamin. Tidak hanya menyenangkan segelintir orang saja namun membawa kesengsaraan bagi mahluk lain.

Komentar

Loading...