Unduh Aplikasi

Permintaan Air Nira Segar di Aceh Utara Tinggi

Permintaan Air Nira Segar di Aceh Utara Tinggi
Foto: Net

ACEH UTARA - Permintaan air nira segar masyarakat di Kabupaten Aceh Utara tinggi, namun terkendala bahan baku seiring produksi nira berkurang sejak beberapa bulan terakhir.

M Yusuf (63), pedagang air nira keliling warga Darul Aman, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, di Lhoksukon, Selasa (21/11), mengaku dagangannya pernah laku hingga lebih 150 bungkus per hari.

"Setiap sebungkus air nira yang diisi dalam kantong plastik itu dijual Rp2.500. Hampir setiap hari dagangan saya habis terjual, dan tidak sedikit juga warga datang ke rumah untuk membelinya langsung," kata dia.

Menurut M Yusuf, air nira tersebut dapat dijadikan sebagai minuman segar, apalagi ditambah es batu dan diminum pada siang hari. Selain, air nira bagus untuk kesehatan tubuh.

M Yusuf menjajakan air nira dengan cara berkeliling menggunakan sepeda motor. Ia mendatangi sejumlah pusat kecamatan wilayah timur dan tengah Aceh Utara.

Bahkan, M Yusuf menyebutkan dirinya juga kerap menjualnya ke sejumlah kecamatan di Aceh Timur serta kabupaten/kota lainnya di pesisir pantai timur Aceh.

"Biasanya saya membawa air nira ini antara 50 hingga 100 bungkus per hari, tergantung banyaknya air nira yang dihasilkan dari penyadapan. Namun dalam beberapa bulan ini airnya berkurang," kata M Yusuf.

Menurunnya produksi nira berpengaruh terhadap omzet. Meski demikian, M Yusuf mengaku belum mengetahui kapan masa puncak produksi pohon aren itu.

"Saya menggeluti usaha air nira sekitar lima tahun, termasuk penyadapan pohon aren. Tapi, saya tidak tahu kapan waktunya banyak air karena setiap hari ada saja nira yang dikeluarkan meski sedikit," ungkap ayah beranak lima itu.

Dia menyebutkan, setiap pohon aren yang disadap setiap hari dengan batas waktu tiga bulan hingga satu tahun lebih. Setiap pohon aren menghasilkan hingga puluhan liter air per hari.

M. Yusuf mengaku mendapatkan air nira itu dari pohon aren milik orang. Meski demikian, dia tidak hanya serta-merta mendapatkannya secara cuma-cuma, tetapi hasilnya harus dibagi.

"Pohon aren ini milik orang, tumbuh dan besar secara alami tanpa perawatan. Saya hanya menyadapnya saja, namun hasilnya tetap harus berbagi dengan pemilik pohon aren," sebut M Yusuf.

Komentar

Loading...