Unduh Aplikasi

Peringati 14 Tahun Tsunami, Nelayan Lhokseumawe Tak Melaut

Peringati 14 Tahun Tsunami, Nelayan Lhokseumawe Tak Melaut
Kapal nelayan bersandar di kawasan Lampulo Banda Aceh. Foto: Tomy

LHOKSEUMAWE – Memperingati 14 tahun bencana alam gempa bumi 9,3 skala richter (SR) disusul gelombang tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, sebanyak 400 lebih nelayan di Kota Lhokseumawe, Aceh tidak melakukan aktifitas melaut.

Panglima Laot Pusong, Lhokseumawe, Rusli mengatakan, 26 Desember memang sudah diputuskan sebagai hari pantang melaut di Aceh, karena bertepatan dengan terjadinya bencana alam tsunami. Hal itu merupakan hasil keputusan diambil dalam musyawarah seluruh panglima laot di Aceh yang digelar 2005 silam.

“Setiap memperingati tsunami nelayan tetap tidak boleh melaut sesuai dengan kesepakatan bersama. Karena tanggal 26 Desember di Aceh sedang berduka mengenang bencana Alam yang pernah terjadi,” katanya kepada AJNN, Senin (24/12).

Rusli menambahkan, sesuai dengan hasil keputusan musyawarah tersebut, bagi para nelayan yang mengabaikan aturan adat laut ini, akan dikenakan hukum adat laut. Yakni kapalnya akan ditahan paling sedikit 3 hari atau maksimal 7 hari. Sementara hasil tangkapannya bakal disita Lembaga Panglima Laot.

“Jadi pada 26 Desember 2018 mendatang, leebih kurang empat ratus boat nelayan akan libur diantaranya 68 unit Kapal Motor (KM) besar dan selebihnya boat kecil,” ungkap Rusli.

Libur tersebut, sambung Rusli hanya akan berlangsung satu hari saja, dan mereka akan kembali melaut pada sore harinya, kalau pagi hari kapal semua akan menepi.

“Libur tersebut juga akan dimanfaatkan oleh nelayan untuk memperbaikai kapal boat dan juga jaring-jaring yang rusak,” pungkasnya.

Komentar

Loading...