Unduh Aplikasi

Perilaku Homoseksual Penyebab Utama Tingginya Penularan HIV/Aids di Aceh

Perilaku Homoseksual Penyebab Utama Tingginya Penularan HIV/Aids di Aceh
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT - Dinas Kesehatan Provinsi Aceh mencatat angka penyakit menular HIV/AIDS di Aceh mencapai 842. Jumlah tersebut tercatat sejak tahun 2004 lalu hingga Agustus 2019. Tingginya angka virus HIV/AIDS yang terjadi di Aceh, sebagian besar disebabkan oleh prilaku sex bebas yang dialami penderita dalam bentuk penyimpangan sex atau hubungan sex sesama jenis.

"Kasus HIV/AIDS di Aceh didominasi oleh prilaku sex bebas, terutama hubungan sesama jenis berupa gay. Dan memang ini sebenarnya yang menyebabkan HIV/AIDS, lantaran hubungan ini disertai darah, karena berhubungan lewat anus," kata Kepala Seksi Pencegahan Dan Penanggulangan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Imam Nurahman, saat dijumpai di Tiara Hotel Meulaboh, Selasa (10/9).

Menurut Imam, prilaku penyimpangan sek kategori homo seksual ini dilakukan dengan cara anakan atau mencari pasangan yang belum dikenal sama sekali, namun dilakukan bujuk rayu dengan menawarkan sesuatu yang dianggap berbahaya oleh orang yang hendak dijadikan pasangannya.

Dalam kasus homo seksual ini, kata dia, sangat sulit untuk bisa dikenali karena antara korban dan pelaku sama-sama lelaki yang justru terlihat tidak mungkin berprilaku sek menyimpang.

"Biasanya banyak mahasiswa yang menjadi korban. Sebelum diajak berhubungan awalnya mereka ngajak ngopi, lalu dibelikan rokok hingga ditawari sejumlah uang, dan disanalah berawal. Seks menyimpang ini biasanya diawali dengan paksaan," ungkapnya.

Bahkan, kata dia, saat ini di Aceh telah ada komunitas penyuka sesama jenis, namun pemerintah kabupaten/kota sulit menertibkannya lantaran komonitas tersebut berpindah-pindah lokasi mangkalnya.

Untuk besaran kasus HIV/AIDS di Aceh selama ini, kata dia, lebih banyak dialami oleh warga Aceh di perantauan dan setelah mereka mengindap penyakit tersebut mereka memilih pulang ke Aceh.

"Untuk warga Aceh yang berlibur dan pulang-pulang mengindap penyakit itu ada juga. Biasanya mereka yang sering mengunjungi Medan ada juga Batam," ucapnya.

Dari kategori pekerjaan, kata dia, para penderita HIV/AIDS selama ini lebih banyak diindap oleh mereka yang bekerja selaku wiraswasta dengan angka capai 40 persen, dan kedua terbesar dialami oleh ibu rumah tangga yang diduga tertular dari pasangan mereka.

Dikatakannya dari 842 kasus tersebut, tertinggi terjadi di Aceh Utara dengan angka 104 kasus, lalu disusul Banda Aceh dengan angka 88 kasus, Aceh Tamiang 83 kasus, Bireun 71, Lhokseumawe 54 kasus, Langsa 54 kasus, Aceh Besar 50 kasus.

Selanjutny, Pidie dan Aceh Timur 53 kasus, Aceh Tenggara 36 kasus, Aceh Tengah 35 kasus, Aceh Selatan 27 kasus, Simeulue 19 kasus, Gayo Lues 17 kasus, Subulussalam 21 kasus, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, dan Bener meriah masing-masing 13 kasus.

"Sedangkan untuk Sabang 11 kasus, Nagan Raya 8 kasus, dan Aceh Jaya paling kecil dengan jumlah pengindap hanya 4 kasus," ungkapnya.

Komentar

Loading...