Unduh Aplikasi

Pepesan Kosong Kebencanaan

Pepesan Kosong Kebencanaan
Ilustrasi: National Geographic

DI Banda Aceh, penanganan bencana alam dirumuskan kembali. Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala dan International Research Institute Disaster Science dan Tohoku University Jepang memprakarsai pertemuan penting ini.

Ada banyak “orang pintar” yang memaparkan pemikiran mereka. Sebanyak 136 makalah ilmiah dari lebih 10 negara dipresentasikan pada konferensi itu. Tentu sangat menarik jika dari pertemuan ini muncul sebuah rumusan terkini yang berguna bagi seluruh elemen yang hidup dan beraktivitas di atas Cincin Api.

Pertemuan ini semakin penting karena kedekatan waktu pelaksanaannya dengan multibencana di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah dan gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Isu ini benar-benar tepat untuk dibicarakan.

Jika umumnya masyarakat mengetahui tsunami yang menyertai beberapa gempa bumi besar, masyarakat umum dibuat tercengang oleh fenomena likuifaksi yang menyertai gempa bumi dan tsunami di Palu. Dua bencana ini menimbulkan ribuan korban jiwa, kerugian materi besar dan kesedihan yang dalam.

Aceh sendiri menyimpan banyak potensi bencana. Baik karena alam atau ulah tangan manusia. Saat ini, di sejumlah daerah di Aceh, banjir menggenangi rumah-rumah penduduk. Fasilitas umum pun banyak yang rusak. Aktivitas masyarakat menjadi tersendat dan kerugian materi yang diakibatkan banjir juga tak sedikit. Yang dipersalahkan dalam hal ini adalah curah hujan yang tinggi.

Banjir dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Pemerintah, baik di tingkat provinsi atau di kabupaten dan kota, menganggap bencana ini cukup ditangani dengan mengirimkan boat karet atau bantuan dapur umum. Bencana yang berulang-ulang ini tak membuat pemerintah bekerja--mengeluarkan kebijakan yang tepat--untuk menemukan akar permasalahan banjir dan memastikan akar permasalahan itu hilang.

Tentu saja kita publik berharap pertemuan ini tidak sekadar hangat di atas meja. Dari pertemuan sejenis, hasil dan implementasi adalah hal penting untuk diaplikasikan. Hasil pertemuan ini harus menjadi bahan pertimbangan utama pemerintah dalam membangun masyarakat siaga terhadap bencana.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah jangan hanya cakap berpidato tentang bencana. Nova perlu mendorong dan mengembangkan riset tentang bencana di seluruh perguruan tinggi di Aceh. Nova harus memastikan hasil riset itu diaplikasikan dalam kebijakan pemerintah oleh satuan kerjanya dan seluruh kepala daerah di Aceh.

Jangan biarkan majelis ilmu di hotel berbintang, di kampus serta ruang diskusi publik, menjadi pepesan kosong yang menghabiskan banyak biaya.

Komentar

Loading...