Unduh Aplikasi

Pengetahuan umum tentang ciri Khas Kompleks Makam Kuno di Aceh

Pengetahuan umum tentang ciri Khas Kompleks Makam Kuno di Aceh
Ilustrasi makam kuno. Foto: Antara

Oleh: Ambo Asse Ajis

Fakta arkeologis menegaskan bahwa ada ribuan Kompleks makam kuno di Provinsi Aceh. baik yang tercatat maupun belum tercatat atau yang masih belum ditemukan, tidak lain merupakan potensi cagar budaya yang khas dan sejatinya tidak dimiliki bangsa lainnya di nusantara.

Secara historis, kompleks makam kuno di Aceh dengan tipologi nisannya yang terkenal sangat luarbiasa dapat diklasifikasi berdasarkan asal usul pemerintahannya, yaitu: nisan kuno era Kerajaan Lamuri(abad ke-13 M s.d abad ke-16 M), nisan kuno era Kerajaan Samudera Pasai (1267-1521) dan nisan kuno era kerjaan Aceh Darussalam (1514-1873) atau sebelum perang dengan Kerajaan Belanda.

Sementara itu, selama perang Kerajaan Aceh Darussalam-Belanda (1873-1942), berkuasanya kolonial Jepang (1942-1945) di Aceh hingga bergabung ke dalam pemerintahan Republik Indonesia (1945-sampai sekarang), belum ditemukan lahir tipologi nisan baru dengan ciri khas tersendiri.

Dapat dikatakan bahwa era pemerintahan  kerajaan atau kesultanan di Aceh adalah era keemasan tumbuhnya seni pahat batu dengan objek utama adalah kompleks pemakamam yang didalamnya  ada badan (jirat, kijin)  makam, nisan, diway  atau pagar keliling serta cungkupnya.

Tumbuhnya seni pahat batu ini tidak dapat dipisahkan dari kontraksi politik kekuasaan saat itu. Seperti, nisan tipe plak plin lebih populer karena berkembangnya kekuasaan  Kerajaan Lamuri. Begitu juga nisan tipe Pasai dan ti Aceh Darussalam juga mengikuti era kekuasaannya yang berlaku pada masa tersebut.

Jika ditelusuri lebih jauh, ternyata, tipe nisan Samudera Pasai dan tipe Aceh Darussalam berhasil menemukan momentumnya untuk terus berkembang lebih jauh dan lebih variatif lagi  karena di dukung kebijakan yang memerintah. Selain itu, adanya dinamika kontraksi kekuasaan yang lebih aktif, turut menurukan tipologi nisan dengan gaya cita rasa baru, sangat berkelas dan selalu konsisten menunjukan identitas yang dimakamkan sebagai hamba Allah yang berserah diri. 

Ciri khas kompleks makam kuno di Aceh

Secara arkeologis, kompleks makam kuno tidak hanya berbicara nisan, badan (jirat), diway (pagar keliling) atau cungkup saja. Tetapi lebih jauh, setiap kompleks makam kuno memberikan ilmu pengetahuan umum kepada kita tentang berbagai hal, diantaranya seperti: bagaimana adat membuat kubur di kompleks penguburan, bagaimana membuat kompleks penguburan, pilihan pesan di nisan yang dititipkan kepada peziarah, pilihan varian nisan yang digunakan,  dan lain sebagainya.

Tetapi dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin fokus menunjukan bahwa berdasarkan kajian arkeologi kita bisa menemukan adanya hukum dalam pembuatan kompleks makam di Aceh semenjak dahulu kala.

Dalam pengamatan panjang terhadap tinggalan arkeologis berbagai kompleks makam kuno di Aceh, saya melihat ada ciri umum perlakukan yang telah diterapkan dari generasi ke generasi selama era pemerintahan kerajaan atau kesultanan di Aceh. 

Pertama, umumnya individu yang meninggal di keluarga kaya, pejabat atau kerabat kerajaan ditempatkan dalam kompleks pemakamamn keluarga; kedua,tokoh utama dalam kompleks tersebut ditulis namanya di nisan yang lebih indah dari lainnya; ketiga, kompleks makam kuno di buat lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Jika tanah sekitarnya rendah maka posisi kompleks makam ditinggikan dengan cara di timbun membentuk gundukan, lalu menaruh badan atau nisan kuno di atasnya sebagai penanda makam. Apabila di atas bukit, maka diberi gundukan kecil atau langsung diberi nisan  sebagai penda makam; keempat, kompleks makam biasanya berderet dengan orientasi timur-barat; kelima, seringkali kita menemukan ada lebih dari 1 tipe nisan yang digunakan dan ini menandakan penggunaan kompleks makam ini berkelanjutan sesuai dengan era pemerintahan saat itu. Artinya, bisa saja kompleks makam dihuni 2 atau 3 generasi dengan pemerintahan yang berbeda. Misalnya, di satu kompleks makam ada jenis nisan tipe Lamuri atau plak pling, ada tipe Samudera Pasai dan ada tipe Aceh Darussalam; keenam, di sekitar kompleks pekuburan seringkali ditemukan pecahan fragmen keramik, stoneware dan tembikar maupun objek arkeologis lainnya yan menandakan adanya penggunaan ruang sekitar kompleks makam sebagai tempat tinggal; ketujuh, keletakan kompleks makam dan rumah ini berada dekat dengan akses jalan, baik itu jalan di darat ataupun melalui sungai yang menghubungkannya dengan pusat-pusat kegiatan saat itu; dan kedelapan, tidak jauh dari kompleks makam tersebut biasanya ada kompleks makam lain yang menjadi penanda lokasi ini merupakan bagian permukiman yang besar dan pastinya memiliki kandungan arkeologis yang sangat kaya.

Tantangan pelestarian Kompleks makam kuno

Dalam perspektif ilmu pengetahuan, memahami sejumlah ciri khas kompleks makam kuno di Aceh adalah bagian dari cara kita memahami prilaku masyarakat kerajaan terkait tradisi penguburan di masa lalu dan penggunaan ruang terkait permukiman.

Tentu saja pengetahuan kuno tersebut bernilai penting pada saat ini dan terlebih lagi di masa mendatang karena  faktanya seringkali kita mendapati laporan penemuan nisan kuno oleh warga, baik itu terlepas dari lokasi aslinya (konteks) akibat faktor bencana alam (misalnya: tsunami, banjir) ataupun akibat faktor kesengajaaan seperti penimbunan ataupun penghilangan paksa  lainnya (misalnya: pembuatan kompleks perumahan, pembuatan jalan, dsb).

Karena itulah, sangat diperlukan adanya pemahaman konstruksi pengetahuan kita tentang seperti apakah wujud kompleks makam kuno dan kekayaan yang dikandungnya. Mengapa, karena kekayaan kandungan yang bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan, sesungguhnya bisa dipergunakan untuk berbagai kepentingan baik itu ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengatahuan dan lain sebagainya.

Dengan modal pemahaman seperti ini maka kita bisa menerapkan langkah pelestarian berbagai lokasi kuno tersebut sekaligus membuatnya terus hidup berdampingan dengan kebutuhan masyarakat masa kini dan yang akan datang.

Tidak hanya itu, keberadaan warisan arkeologi kerajaan di atas, dapat turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya dengan menyiapkan dirinya ke dalam pengelolaan sumberdaya budaya berbasis ekonomi dengan berbagai produk bernilai jual.

Penulis adalah Anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Aceh-Sumatera Utara

Komentar

Loading...