Unduh Aplikasi

Pembangunan AKN Pijay Oleh Yayasan Budha Tzu Chi Diprotes

Pembangunan AKN Pijay Oleh Yayasan Budha Tzu Chi Diprotes
Peletakan batu pertama pembangunan Kampus AKN

PIDIE JAYA - Peletakan batu pertama pembangunan gedung perkuliahan di Kampus Akademi Komunitas Negeri (AKN) yang dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Gampong Baro, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, pada Senin (12/2) menuai protes dari sejumlah pengguna media sosial Facebook.

Pantauan AJNN, pada dinding laman fecebook dengan nama akun Putra Aceh menuliskan “Yayasan Buddha Tzu Chi Berdiri Di Pidie Jaya.. Mubuet Laju Dandang Keumah Keuh...!!!” dengan memposting empat gambar proses peletakan batu pertama pembangunan gedung kampus AKN. Hingga berita ini diturunkan, postingan milik Putra Aceh telah dikomentari 482 warganet dan dibagikan lebih dari 2000 kali.

Menanggapi persoalan yang ramai diperbincangkan di media sosial itu, Wakil Bupati Pidie Jaya, Said Mulyadi melalui sambungan seluler kepada AJNN, Senin (12/2) mengatakan, yayasan tersebut hanya membantu pembangunan kampus AKN.

"Jangan salah persepsi, itu bukan yayasan budha yang dibangun, tapi yayasan itu membantu pembangunan kampus AKN, dan di kampus itu nantinya tidak akan ada mata kuliah sedikitpun yang melenceng dengan syariat Islam," kata Said Mulyadi.

Kata Wabub Pijay yang biasa disapa Waled itu, pemerintah setempat akan membahas kembali pembangunan kampus itu dengan semua unsur dan lembaga di Pidie Jaya.

"Sementara pembangunan kampus itu akan ditunda dulu. Kami akan membahas kembali terkait bantuan pembangunan kampus ini dengan Muspida plus, ulama, serta ormas lainnya yang ada di Pidie Jaya," jelas Waled.

Katanya, jika memang kampus yang rencananya akan dibangun oleh yayasan Budha Shu Chi tidak mendapat persetujuan setelah musyawarah nantinya. Maka sambungnya, pembangunan kampus itu tidak akan dilanjutkan dengan bantuan yayasan tersebut.

Waled mengakui kalau seremonial peletakan batu pertama pembangunan kampus AKN tersebut bernuansa budaya Tionghua. Hal itu jelas tidak dapat diterima oleh masyarakat Aceh umumnya.

"Memang waktu peletakan batu pertama tadi terlihat seperti budaya Tionghoa," ujarnya.

Dikatakannya, jikapun adanya unsur-unsur yang tidak sesuai dengan budaya dan Syariat Islam. Maka tentunya akan ditertibkan.

"Kami harap kepada semua masyarakat Pidie Jaya untuk dapat bersabar. Kita sama-sama menunggu hasil musyarawah. Kalau persoalan simbol-simbol yang tidak sesuai dengan budaya kita sudah ditertibkan," imbuh Waled.

Senada dengan Wakil Bupati, Wakil Ketua DPRK Pidie Jaya, Fakhruzzaman Hasballah berharap kepada masyarakat Pidie Jaya untuk bersabar menunggu hasil musyawarah antara pemerintah setempat dengan muspida, ulama, pimpinan dayah serta juga ormas-ormas Islam.

"Untuk sementara, pembangunan kampus itu ditunda dulu hingga ada hasil musyawarah dengan semua elemen di Pidie Jaya. Saya berharap masyarakat dapat bersabar hingga keluar hasil musyawarah," ujarnya.

Komentar

Loading...