Unduh Aplikasi
WTP Pemerintah Aceh 2019

Pelabuhan di Aceh Minim Fasilitas

Pelabuhan di Aceh Minim Fasilitas
Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar. Foto: Net

BANDA ACEH - Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP Unsyiah) menggelar Seminar dan Diskusi Poros Maritim Nasional ke-2 yang bertemakan "Penguatan Konsep Poros Maritim untuk Kemakmuran Bangsa dan Negara".

Kegiatan ini berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood, Kamis (14/3) yang diikuti ribuan mahasiswa.

Wakil Rektor I Unsyiah Bidang Akademik, Marwan, mengatakan kondisi maritim Aceh tergolong cukup potensial, karena didukung oleh kondisi geografis, historis, serta sosial budaya di Aceh. Aceh memiliki garis pantai sepanjang 1.660 km dan luas perairan laut mencapai 295.370 km².

Secara geografis, menurutnya, posisi laut Aceh sangat strategis, dikarenakan menjadi salah satu pintu masuk utama Indonesia serta belahan dunia timur, khususnya bagi pelaku ekonomi dari barat yang berasal dari India, Timur Tengah, Afrika, hingga wilayah Eropa.

"Perairan Aceh saat ini tidak hanya strategis untuk kegiatan manusia, perairan Aceh juga merupakan jalur migrasi yellowfin tuna dan tongkol di dunia yang komoditas ikan tersebut dapat mencapai 1,8 juta ton per tahun," ujarnya

Marwan juga menambahkan, Aceh menjadi salah satu provinsi di Sumatera yang memiliki pelabuhan perikanan dengan level pelabuhan samudera yang berkapasitas 300-400 ton. Bahkan, Aceh juga dinobatkan sebagai salah satu poros maritim wilayah barat Indonesia.

Namun menurutnya, segala potensi ekonomi ini tidak akan optimal jika tidak didukung infrastruktur yang memadai. Salah satu fasilitas pelabuhan yang masih minim yaitu ketersediaan gudang dan crane, khususnya di Pelabuhan Malahayati, dan Krueng Geukeuh Lhokseumawe. Selain itu, sebagian besar pelaku usaha kemaritiman, khususnya pengusaha pelayaran barang (freight) masih menilai pelayaran ke Aceh tidak cost effective.

“Kita membutuhkan pedoman lengkap untuk tata ruang pengelolaan kemaritiman di Aceh. Dan Unsyiah siap berkontribusi dalam pengembangan dan pengelolaan potensi maritim Aceh atau Indonesia. Terlebih lagi kita memiliki Fakultas Kelautan dan Perikanan,” ujarnya.

Sementara itu, Rokhim Dahuri, yang menjadi salah satu pemateri mengatakan Indonesia memiliki potensi ekonomi kelautan yang sangat besar. Walaupun saat ini, potensi tersebut belum semuanya digarap dengan maksimal.

Menurutnya dibutuhkan inovasi iptek dan manajemen professional agar keunggulan ini dapat ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terlebih lagi, potensi ekonomi kelautan Indonesia mampu menyerap begitu banyak lapangan kerja. Untuk itu, ia berharap semua elemen termasuk dunia pendidikan dapat memberikan sumbangsih berarti agar potensi ini dapat digarap dengan baik.

“Memajukan bangsa itu ada dua, yang pertama mengeluarkan jurus (potensi) terbaiknya dan kedua saling bekerja sama untuk membangun,” pesan pakar kelautan dan perikanan ini.

Kegiatan ini juga menghadirkan pemateri tim kerja poros maritim Oggy Haryanto, Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA, Arifin Rudiyanto, Dekan FKP Unsyiah, Muchlisin

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...