Unduh Aplikasi

Pasca OTT Pejabat Disdik Aceh Barat, Polisi Tetapkan Lima Tersangka

Pasca OTT Pejabat Disdik Aceh Barat, Polisi Tetapkan Lima Tersangka
Kapolres Aceh Barat memperlihatkan bukti hasil OTT pejabat disdik kabupaten setempat. Foto: Darmansyah Mudad

ACEH BARAT - Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat menetapkan lima tersangka pasca operasi Operasi Tangkap Tangan (OTT) tim satuan sapu bersih pungutan liar (Saber Pungli) terhadap sejumlah pejabat dinas pendidikan kabupaten setempat.

Dari lima tersangka yang ditetapkan itu, tiga diantaranya merupakan Pejabat Disdik setempat yakni MN selaku Kepala Seksi Sarana dan Prasarana, ZL kepala Sekolah SD 2 Ranto Panyang, Kecamatan Meureubo, dan AL Kepala Sekolah SKB Aceh Barat. Sedangkan dua lainnya yakni RS selaku staf operator di Seksi Sarpras, dan MB yang merupakan pihak swasta yang dipercayakan sebagai rekanan di disdik setempat.

Kepala Polres Aceh Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Raden Bobby Aria Prakasa SIK, mengatakan dari penangkapan kelima tersangka tersebut polisi mengamankan uang tunai sebesar Rp 157 juta lebih serta dua lembar catatan SD da SMP yang akan menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) dari RS. Selain itu, juga Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) serta Dokumen perjanjian pemberian bantuan.

“Hasil pemeriksaan dari kelima tersangka uang tersebut merupakan ijon dari proyek untuk pengerjaan rehab sekolah-sekolah yang ada melalui dana DAK bidang pendidikan tahun 2018,” kata Bobby, kepada wartawan Kamis (23/8).

Penangkapan kelima tersangka tersebut dilakukan dilima lokasi terpisah. Dimana awalnya pihak kepolisian mengamankan RS di mushalla salah satu bank yang bertujuan hendak mengutip ijon proyek bersumber dari DAK tersebut berdasarkan perintah dari MN.

Dari hasil pemeriksaan, RS mengaku penyerahan dana dilakukan oleh AL dan ZL, dari hasil pengembangan tersebut pihak Saber Pungli Polres Aceh Barat mengamankan AL di Sekolah SKB Aceh Barat yang berada di Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, lalu mengamankan ZL, disalah satu Cafe yang berada dipinggir pantai. Dari hasil penangkapan ketiganya mengarah kepada MB, pihak swasta yang merupakan rekanan yang ditunjuk di disdik setempat.

“Setelah kami amankan MB, AL, ZL, dan RS, hasil ijon proyek tersebut diserahkan kepada MN, selaku Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK yang juga menjabat sebagai kasi sarpras,” ungkapnya.

MN, kata Bobby, ditangkap dikediamannya yang berada di Kecamatan Johan Pahlawan pada Senin (20/8) malam. Dari hasil pengakuan MN, dana itu diperoleh dari MB, sebesar Rp 127 juta, ZL Rp 20 juta, RS Rp 6 juta dan AL Rp 3,6 juta.

"Dana yang dikumpulkan dari sekolah bervariatif mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, untuk dana yang telah diserahkan lewat RS sendiri berjumlah 21 sekolah," ujarnya.

Diduga pemberian uang pada RS untuk masing-masing kepsek adalah biaya penggandaan kontrak dokumen dengan maksud untuk kelancaran administrasi dalam mengelola pekerjaan yang mendahului sebelum pencairan dana DAK fisik bidang pendidikan karena pekerjaan dilakukan sebelum adanya uang masuk direkening sekolah penerima dana DAK yang lazim disebut ijon pekerjaan

“Untuk dana DAK bidang pendidikan yang digunakan untuk kegiatan rehab sekolah ini sendiri berjumlah Rp 3,9 miliar,” imbuhnya.

Hingga saat ini, Bobby mengaku terus melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut guna melihat lebih lanjut ada atau tidaknya keterlibatan pejabat lebih tinggi .

"Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Korupsi. Sedangkan ancaman hukumannya bervariasi berdasarkan peran dari masing-masing tersangka," ungkapnya.

Komentar

Loading...