Unduh Aplikasi

SANTRI JADI KORBAN PELECEHAN SEKSUAL

P2TP2A Minta Pemerintah Evaluasi Dayah dan Pesantren di Lhokseumawe

P2TP2A Minta Pemerintah Evaluasi Dayah dan Pesantren di Lhokseumawe
Konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Kamis (11/7). Foto: AJNN.Net/Sarina

LHOKSEUMAWE - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menanggapi terkait kasus yang menimpa 15 orang santri menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pimpinan dayah dan guru ngaji salah satu lembaga pendidikan ternama di Lhokseumawe.

“Kalau menurut saya kejadian ini sangat miris, apalagi dalam lingkungan pendidikan agama yang kita anggap tempat yang paling aman untuk anak-anak. Dan sekarang malah pimpinan dayah sendiri yang paling dipercayai sebagai pelindung malah jadi pelaku,” kata Pendamping dari P2TP2A Kota Lhokseumawe, Syifa Zakaria kepada AJNN, Kamis (11/7).

Menurutnya hal ini menjadi persoalan penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali pesantren dan dayah yang ada di Aceh, khususnya di Kota Lhokseumawe, sehingga yang sama tidak akan terulang kembali di masa mendatang. Karena akan menimbulkan asumsi bahkan opini publik yang menyebutkan kalau pesantren tidak aman lagi untuk anak.

“Kalau dulu menjaga anak perempuan sangat sulit, tapi sekarang anak laki-laki malah ikut serta dilecehkan menjadi korban pelecehan seksual. Dan hal ini akan berdampak buruk bagi anak itu sendiri,” ungkap Syifa.

Sambung Syifa, adapun dampak buruk yang akan terjadi pada anak itu kelak yakni tidak akan percaya lagi kepada orang khususnya lelaki dan menganggap lelaki itu adalah semua pelaku hal itu. Dan si korban juga akan mengalami aseksual yakni tidak menyukai lagi perbuatan seks malah melakukan perbuatan negative lainnya.

Baca: Pemko Lhokseumawe Bekukan Operasional Dayah AN

“Dan hal yang dikhawatirkan lagi yaitu karena sudah merasa nikmat, ketika besar nanti akan melakukan hal yang sama bahkan menjadi pelaku. Dan akhirnya menyalurkan seksnya kepada laki-laki,” ujarnya.

Lanjutnya, hasil penelitian jika anak-anak korban sodomi tidak dilakukan pendampingan dan juga pemulihan psikologisnya secara serius dari badan perlindungan anak, mereka akan menjadi pelaku kembali di masa mendatang.

“Mengingat kasus pelecehan seksual yang terjadi saat ini pelakunya merupakan orang terdekat. Maka diimbau kepada orangtua supaya juga mengamati tumbuh kembang si anak. Jika anak sudah tidak merasa nyaman di suatu tempat, misalkan pesantren, sekolah ataupun asrama lainnya jangan dipaksakan, karena pasti ada hal yang terjadi, oleh karena itu kepekaan orangtua dibutuhkan,” jelasnya.

Lanjutnya, pihaknya dari P2TP2A akan melakukan pendampingan terhadap korban tersebut, bahkan hingga saat ini pihaknya masih bersinergi dengan aparat kepolisian untuk mengungkap kasus yang serupa.

"Dan ini membutuhkan kerjasama yang solit lagi supaya semua kasus yang sama bisa terungkap," ujarnya.

Komentar

Loading...