Unduh Aplikasi

Nasib Putri, Tanggung Jawab Pemimpin

Nasib Putri, Tanggung Jawab Pemimpin
Rustam Effendi. Foto: Ist

Oleh: Rustam Effendi

JUJUR saja, ada perasaan haru biru ketika saya membaca berita sebuah media di Aceh. Seorang putri yang bernasib malang. Saat sedang di sekolah dia mengeluh, perutnya sakit luar biasa, tak terperikan. Awalnya, orang menganggap itu sesuatu yang lumrah, apalagi untuk putri seusianya. Namun, anggapan itu keliru. Sakit perutnya bukanlah sesuatu yang biasa.

Putri Dewi Nilaratih (14 thn), nama gadis itu. Nama yang indah sekali. Saat namanya ditabalkan ketika dia lahir dulu, ayah-ibunya tentu membayangkan sang putri akan tumbuh dewasa dengan balutan suasana penuh keceriaan. Dia akan melalui babakan hidupnya di tengah keluarga dengan penuh canda-tawa. Dia akan bermain dan bercengkerama dengan rekan sepermainannya

Putri mereka dibayangkan akan dapat menempuh pendidikan dengan fasilitas penunjang belajar, termasuk menu makanan yang cukup, layak, dan sehat sempurna. Dibayangkannya, Putri akan mampu meraih mimpi layaknya insan manusia.

Tapi, apa dinyana. Yang dibayangkan dan diimpikan itu jauh dari yang ideal. Adalah Putri mengungkapkan deritanya yang tak biasa. Yang tak sepatutnya mesti dialaminya.

Ketika sedang belajar dia bagai terkapar. Perutnya sakit luar biasa. Badan terasa bergetar karena rasa lapar yang tak tertahankan. Inilah yang sebenarnya amat menyentuh hati nurani kita.

Di kala anak-anak seusianya, rekan-rekannya, baru usai menikmati masa liburan mereka yang indah. Beranjang sana ke sini dengan orangtua mereka. Justru saat mengikuti pelajaran di sekolah, Putri harus dihadapkan pada situasi yang amar menggetirkan hati kita.

Saat bersekolah dia tak sarapan. Bukan karena kebiasaan buruk seperti malas makan, takut gemuk, diet, atau apalah alasannya, yang lazim dipraktekkan banyak putri seusianya. Dia tidak makan karena tak ada yang dapat dimakannya. Sang ibu tak menyediakan untuknya. Tak ada beras di rumahnya karena sang ayah tak mampu membelinya.

Masya Allah. Subhanallah.

Di hari saat membaca berita itu saya terduduk dan merasa amat terharu. Perasaan ini terasa amat terenyuh, miris, dan sedih sekali.

Seketika hati bertanya,

"Ke mana mereka, para pemimpin? Apakah mereka tidak tahu jika di wilayahnya ada orang semiskin keluarga Putri? Itukah cermin kepedulian pemimpin selama ini pada rakyatnya?".

"Apa kerja pemimpin yang ada di Gampong, Kemukiman, Kecamatan, Kabupaten, atau di Provinsi selama ini? Maaf, begitu kah kadar perangai para pemimpin kita? Tak mengertikah mereka akan arti tanggung jawab sebagai pemimpin? Begitu ringan kah mereka memandang ancaman dosa yang dipikul seorang pemimpin di akhirat, nanti?".

Tiba-tiba, saya teringat pada kisah Saiyidina Umar Bin Khatab, sahabat Baginda Rasulullah yang kita cintai. Kisah yang kerab diulang-ulang ketika diurai soal tanggung jawab seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Suatu malam Umar menangis, merasa amat bersalah dan berdosa atas kelalaiannya. Ketika Umar meronda, dia menemukan seorang ibu di sebuah gubuk yang sedang menanak "batu" karena tak ada gandum di rumahnya. Itu dilakukan si ibu demi mendiamkan si anak, buah hatinya, yang terus menangis meraung-raung minta makan karena dia lapar. Sebagai pemimpin, kala itu Umar, yang dikenal sebagai sosok yang amat tegas itu, merasa berdosa atas kelalaiannya. Umar menyesali mengapa sampai ada warganya yang menderita separah itu.

Kini, di Aceh kita ini ada seorang putri bernama Putri yang terpaksa tak makan pagi karena tak ada beras di rumahnya. Sementara dia harus ikuti pelajaran di sekolah demi menggapai masa depannya. Kondisi yang kontras sekali. Semestinya ini tidak boleh terjadi di Negeri bersyariat ini, apalagi di saat anggaran pembangunan dari dana Otsus yang melimpah saban tahun. Ada lagi jatah Rastra yang menjadi hak mereka, keluarga miskin itu.

Ke mana kah Umar-Umar kita itu? Apakah mereka sedang asyik dengan dunianya sendiri? Tak adakah lagi mereka di Bumi Endatu ini?

Andaikan Saiyidina Umar masih ada, tentu hal ini tidak akan terjadi. Jika pun ada, pasti akan segera diketahuinya dengan aktivitas ronda yang rajin dipraktekkannya selaku seorang pemimpin.

Begitulah kondisi kita sekarang. Banyak orang yang amat suka menjadi pemimpin. Namun, kian langka orang yang peka dan rela bekerja untuk menghapus derita mereka yang hidupnya masih miskin.

Akhirnya, kita berharap Putri tetap bisa bersekolah tanpa harus menderita lagi. Tiap ke sekolah akan dapat bersarapan. Dan, suatu saat namanya akan seindah hidupnya pula.

Aamiin Yaa Rabb..

Penulis adalah Guru/Pengamat Ekonomi

HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...