Unduh Aplikasi

Musyawarah Tanpa Trah Firmandez

Musyawarah Tanpa Trah Firmandez
Ilustrasi: Arthewall

KAMAR Dagang dan Industri Aceh bersiap menyambut Musyawarah Provinsi VI. Hingga kemarin malam, tiga kandidat mendaftarkan diri untuk menjadi orang nomor satu di organisasi penting di sektor bisnis ini.

Satu di antaranya adalah Makmur Budiman. Di kalangan pebisnis dan kontraktor di Aceh, nama Makmur cukup mentereng. Dia dikenal sebagai pengusaha yang ulung. Seorang lainnya adalah Said Isa. Nama terakhir ini adalah seorang kontraktor asal Meulaboh, Aceh Barat.

Kali ini, untuk menjadi Ketua Kadin Aceh, para kandidat harus menyetor “uang hangus”. Panitia mematok Rp 1 miliar. Menang atau kalah, uang itu tidak akan dikembalikan. Ini adalah salah satu cara agar kandidat yang bertarung dalam musyawarah nanti bukan kandidat cilet-cilet.

Uniknya, belum ada nama Firmandez atau sanak keluarganya yang mendaftar sebagai calon ketua. Firmandez adalah pengusaha yang memimpin organisasi ini lebih dari dua periode. Dia akhirnya dilengserkan dari kursinya. Saat memimpin, Firmandez dianggap anggotanya tidak mengakomodir kepentingan organisasi dan lebih berpihak kepada trahnya.

Bagi Firmandez, uang Rp 1 miliar tentu bukan masalah. Dia adalah pengusaha besar Aceh yang malang melintang di dunia bisnis sejak lama. Namun saat tak ada jaminan untuk kembali memegang tampuk pimpinan organisasi, Firmandez tentu tak ingin membuang uang sia-sia. Terutama saat mengetahui bahwa sebagian besar anggota Kadin Aceh tak berpihak kepadanya.

Terlepas dari sengkarut dalam organisasi ini, publik, terutama pelaku bisnis, di Aceh tentu berharap agar Kadin Aceh kembali ke khittah. Menjadi organisasi yang menaungi seluruh pebisnis di Aceh. Menjadi organisasi yang mampu mengembangkan potensi anggotanya.

Seperti yang diharapkan oleh ketua panitia musyawarah, Muhammad Mada. Agenda penting ini menyeleksi kandidat yang benar-benar serius dan memiliki visi dan misi memajukan dunia usaha di Aceh. Ragu-ragu; jangan maju.

Komentar

Loading...