Unduh Aplikasi

Mie Kecil Beromzet Besar

Mie Kecil Beromzet Besar
Mie caluk dan pilihan bumbu. Foto: acehfame.com
BANDA ACEH - Ini adalah kuliner khas masyarakat Sigli. Mie goreng dengan siraman kuah kacang ini dengan mudah didapati di setiap sudut daerah di Pidie. Selain harga, bumbu yang diolah dengan resep lokal ini membuat mie caluek menjadi selera utama masyarakat Pidie.

Mie ini tak berbeda jauh dengan mie goreng lain yang di sejumlah daerah di nusantara. Mie hun, yang menjadi bahan baku utama mie caluk, digoreng dan ditumpuk dalam keranjang berlapiskan daun pisang. Para penjualnya cukup mengambil porsi sesuai pesanan pembeli dan mencampurnya dengan bumbu kacang, daun sop, kerupuk dan sedikit bawang goreng.

Bagi para pelintas Jalan Medan-Banda Aceh, mie ini dijual di hampir seluruh lapak di Pasar Grong-Grong. Salah satu yang paling diminati adalah milik Mardiana. Di tempat Mardhiana, ada lima jenis campuran bumbu selain kacang, yakni urap, tahu, tempe dan kuah kacang merah.

Mie hasil produksinya juga terbilang tradisional. Mardiana membuat sendiri mie yang dijualnya setiap hari di pasar itu. “Dalam sehari, habis sekitar 90 kilo (gram) tepung gandum,” kata Mardiana, Ahad (21/2).

Tak hanya dijual di pasar itu, mie Mardiana juga diambil pengecer untuk dibawa ke desa-desa di sekitar Grong-Grong. Setiap sore, pedagang mengambil mie Mardiana dan menjualnya hingga ke alun-alun Kota Sigli, ibu kota Pidie dan Pidie Jaya, sekitar 30 kilometer dari Grong-Grong.

Di pasar, Mardhiana dengan berbagai porsi. Dari Rp 1.000 hingga Rp 5.000 per bungkus. Meski tak mengungkapkan penghasilannya, Mardiana mengaku omzet dari berjualan mie ini mampu menopang kehidupan keluarganya. “Lebih besar sedikit dari gaji pegawai,” kata Mardiana.

Komentar

Loading...