Unduh Aplikasi

Mengenang Teungku Lah dan Ahmad Kandang

Mengenang Teungku Lah dan Ahmad Kandang
Fauzan Azima bersama pasukan GAM lainnya

Oleh: Fauzan Azima

Saya bertemu dengan Teungku Abdullah Syafi'i di Rumah Ilyas Pase (Panglima D IV Pasee) di Batee Vila Nisam, Aceh Utara tahun 2001. Teungku Lah nama panggilan beliau datang sendiri tanpa pengawalan dengan sepeda motor RX King.

Saya bertemu beliau mendampingi Teungku Ilham Ilyas Leubee (Panglima Wilayah Linge). Rencana kami yang berangkat ke Markas Komando di Wilayah Pidie, tetapi Teungku Lah ingin bertemu kami di Wilayah Pasee.

Setelah turun dari sepeda motornya, beliau langsung menyapa kami dalam bahasa Gayo. Ternyata beliau memang fasih berbahasa Gayo karena lama tinggal dan berusaha di daerah Angkop dan Ketol.

Kami ingin menyampaikan sedikit keluhan kepada Teungku Lah bahwa Wilayah Linge dukungan masyarakat kurang terhadap GAM karena kekurangan senjata. Lebih lanjut Teungku Ilham protes ketidakadilan komando yang memberikan senjata lebih sedikit dan dapat jatah senjata yang tidak layak pakai.

Tidak lama kemudian, Muallim Muzakkir Manaf (Wakil Panglima GAM) datang, juga tanpa pengawalan dengan sepeda motor Win, beliau langsung memeluk Teungku Lah seperti layaknya dua saudara yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa.

Meski kerinduan dua pimpinan ini seolah tidak habis, kami tetap fokus mengenai rencana kami memperkuat GAM Wilayah Linge di lapangan, mengingat Kawasannya sangat luas meliputi lima kabupaten; Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Bener Meriahdan Tanah Karo.

Teungku Lah dan Muallim menyetujui rencana tersebut. Seketika Muallim menghubungi Ahmad Kandang untuk datang ke Bate Vila. Tidak begitu lama terdengar tembakan dari halaman rumah. Teungku Lah tertawa, sedang Muallim marah dan keluar hendak mencabut pistolnya, tetapi begitu beliau tahu Ahmad Kandang yang melepaskan terbakan, Muallim pun tertawa.

"Bek le hai Mat, na ureung Syik di sino, (Jangan lagi hai Mat, ada orang tua disini)," teriak Muallim karena telinga pekak oleh suara letusan senjata moser.
Saya tahu perasaan Muallim, beliau marah karena penghormatannya kepada Teungku Lah, tetapi karena Teungku Lah sendiri tertawa dan pelakunya adalah Ahmad Kandang, Muallim pun maklum.

Ahmad Kandang melihat saya dengan gaya khas topi pad merah menyapa saya, "Hai pasukan Linge, pasukan Burak, Jroh-Jroh" katanya dengan penuh semangat.

Sebelumnya beliau belum pernah seakrab itu dengan saya, biasa hanya saling tersenyum, lalu pergi, tanpa kata. Padahal telah beberapa kali Ahmad Kandang membantu kami berperang, begitu juga sebaliknya, tetapi kami tidak pernah saling bicara. Bahkan beliau menyediakan logistik; makanan dan senjata untuk basecamp kami di daerah Gunung Salak.

Sikap akrabnya yang tidak biasa kepada saya, ternyata beliau ingin meninggalkan kesan terakhir untuk saya kenang seumur hidup karena Muhammad Rasyid alias Ahmad kandang pada 27 Januari 2001 meninggalkan kami untuk selamanya.

Teungku Lah sendiri sangat menyayangi Teungku Ilham Ilyas Leubee, karena rasa hormatnya kepada salah seorang tokoh deklarator GAM, Teungku Ilyas Leubee, sampai menurut pengakuan Teungku Lah, beliau bertapa untuk bisa menadi keramat seperti Teungku Ilyas Leubee.

Sepulang bertapa Teungku Lah melihat ibunya menampi padi di halaman rumahnya di daerah pinggiran hutan, beliau pun menyapa dengan hormat, tetapi ibunya justru lari karena ada suara, tapi tidak ada jasadnya.

"Mungkin saya terlalu lama bertapa" katanya bergurau.

Hasil pertemuan kami dengan pimpinan komando pusat GAM sangat serius untuk membangun pasukan kuat di Wilayah Linge, senjata yang dibawa oleh Ahmad Kandang; Moser, GLM dan senjata AK 56 dan M-16 diberikan kepada pasukan kami.

Setelah pertemuan di Bate Vila, kami tidak pernah bertemu lagi dengan Teungku Lah. Kami hanya mengikuti pernyataan beliau lewat media massa, dan ketika beliau syahid pada 22 Januari 2002, kami hampir tidak percaya. Rasanya baru saja kami bersama dalam tawa, meski sebenarnya kami sedang berduka.

Penulis adalah mantan Panglima GAM Wilayah Linge

Komentar

Loading...