Unduh Aplikasi

Menemukan Kembali Musuh Bersama

Menemukan Kembali Musuh Bersama
Ilustrasi: ajnn

HARI ini, Gerakan Aceh Merdeka merayakan Milad. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada isu yang lebih mengemuka di hari kelahiran gerakan itu dibandingkan tentang upaya mengibarkan bendera. Dan seperti biasa pula, Milad menjadi “ajang” aparat negara untuk mengecam dan mengancam pengibar Bendera Bulan Bintang yang keberadaannya masih dianggap tidak sah meski kini tercatat dalam lembaran daerah.

Namun bendera bukanlah masalah besar. Hari ini harusnya menjadi momentum untuk menyatukan kembali para pejuang GAM setelah tercerai berai karena perbedaan pendapat dan pendapatan setelah penandatanganan perjanjian damai di Helsinki, Finlandia.

Tindakan mengatasnamakan GAM dan eksploitasi besar-besaran dari pribadi dan kelompok yang pernah berjuang atas nama keadilan untuk Aceh adalah musuh sebenarnya dari perjuangan GAM. Dulu nama ini cukup angker dan kerap digunakan untuk mengeruk keuntungan dari proyek pembangunan atau penentuan jabatan di pemerintahan.

Lembaga-lembaga yang dibentuk dan dipimpin oleh bekas kombatan GAM dan para petingginya juga tak memberikan manfaat. Ini terlihat jelas dari tergerusnya kepercayaan masyarakat kepada kandidat yang diusung partai politik lokal dalam pemilihan kepala daerah atau pemilihan anggota legislatif.

Lembaga Wali Nanggroe atau Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, juga tak banyak memberikan manfaat dalam mendorong kesejahteraan masyarakat Aceh secara luas. Para politikus yang dulu menyatakan diri melawan kesewenang-wenangan pusat malah asyik “berselingkuh” dengan “musuh”. Padahal masyarakat, yang atas nama mereka perjuangan itu didasarkan, tak mengalami peningkatan kesejahteraan.

Hari ini, lewat peringatan Milad GAM, adalah momentum untuk bermuhasabah dan menyatukan diri. Saling terbuka untuk mengakui kesalahan. Bersatu bukan untuk mengancam upaya penegakan hukum atas dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan segelintir oknum bekas kombatan. Bersatu untuk menemukan kembali cara menghadapi musuh bersama masyarakat Aceh: kebodohan dan kemiskinan. 

Komentar

Loading...