Insentif PKB - BPKA 2019
Unduh Aplikasi

Memandang Lubang Sebelah Mata

Memandang Lubang Sebelah Mata
Ilustrasi: pexels

KEMATIAN Nazir, 14 tahun, warga Gampong Merbo Jurong, Aceh Utara, meninggalkan rasa nyeri di hati. Tak hanya keluarga, teman dan orang-orang yang mengetahui kejadian ini tentu menyayangkan kematian yang sia-sia ini.

Adalah jalan berlubang yang merenggut nyawa Nazir saat dia melintasi jalan itu, Zuhur, dua hari lalu. Pelajar sekolah menengah pertama ini tak dapat mengendalikan kendaraan saat tepergok lubang, menghindar dan terpental ke luar jalur.

Pejabat kepolisian mengatakan Nazir mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi bersama rekan yang tak senahas Nazir. Namun ini tidak menghilangkan fakta bahwa sebuah lubang di jalan beraspal bisa sangat membahayakan pelintasnya.

Urusan lubang bukan perkara sepele. Setelah puluhan tahun merdeka, pemerintah seperti tak sanggup membangun jalan yang benar-benar layak untuk dilintasi. Anggaran untuk pembangunan jalan sering kali dikorup. Alhasil, umur aspal hanya bertahan beberapa waktu saja.

Lantas dibuatlah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aturan ini menjadi pengingat agar penyelenggara pemerintah benar-benar memperhatikan kualitas jalan yang ada di daerah mereka.

Pada pasal 273 aturan itu disebutkan bahwa pengguna jalan berhak menuntut penyelenggara jalan apabila mengalami kecelakaan akibat kerusakan jalan, fasilitas. Pemerintah juga bisa dituntut jika tidak memasang rambu-rambu jalan.

Aturan ini tak populer. Namun tetap saja bisa digunakan untuk menjerat penanggung jawab jalan agar bekerja lebih serius lagi. Lembaga bantuan hukum, misalnya, bisa membantu keluarga korban kecelakaan akibat lubang untuk melakukan gugatan. Karena urusan lubang ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Khanduri Laot

Komentar

Loading...