Unduh Aplikasi

Memahami Alam di Jalur Gerilya Cut Nyak Dien

Memahami Alam di Jalur Gerilya Cut Nyak Dien
Siswa Pendidikan Lanjutan Kids Survivor Level 4 (kanan) mengajarkan anak-anak di Sikundo membuat hiasan gelang tangan. Foto: dokumentasi Bintang Kecil

BANDA ACEH - Pemahaman tentang pentingnya arti lingkungan harusnya ditanamkan sejak dini. Dengan demikian, muncul sikap dan tindakan yang selaras dengan kepentingan lingkungan saat anak-anak beranjak dewasa.

“Tidaklah cukup bahwa seseorang mengerti mengenai efek hilangnya keanekaragaman hayati. Dia juga harus mengerti bahwa masalah tersebut merupakan cerminan nilai dan sikap dalam pembangunan,” kata Alit Ferdian, Koordinator Kegiatan Pendidikan Lanjutan Kids Survivor Level 4, Kamis (29/8).

Pendidikan Lanjutan Kids Survivor Level 4 adalah kegiatan yang digagas oleh Lembaga Pendidikan Bintang Kecil bekerja sama dengan PT Pegadaian, Yayasan Rumbia, dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh. Kegiatan ini digelar di Desa Sekundo, Kecamatan Pante Ceureumin, Aceh Barat, sepanjang 16-21 Agustus 2019.

Menurut Alit, peningkatan pengetahuan mengenai konservasi sedini adalah cara mengubah sikap masyarakat terhadap lingkungan. Dan ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada ilmuwan ataupun pemerintah. Alit berharap, model pendidikan kepada anak-anak usia dini ini dapat membentuk karakter peduli lingkungan melalui media alam bebas dan metode pendidikan lingkungan.

Pendidikan kali ini dititikberatkan pada dua hal, yaitu peningkatan pengetahuan dan kemampuan peserta didik dalam menginventarisir potensi hutan, baik flora atau fauna, seperti yang didapat dari pendidikan sebelumnya. Kedua pengenalan dan menggali informasi tentang sosial budaya masyarakat adat setempat.

Untuk itu, 13 peserta didik yang mengikuti kegiatan ini menetap di rumah-rumah penduduk Sikundo. Mereka mengikuti seluruh aktifitas masyarakat sehari-hari. “Kegiatan ini disajikan dengan berbagai macam kriteria yang lebih sulit dan spesifik dari level sebelumnya, baik itu dari segi geografis, jarak tempuh dan konten materi yang akan menuntut siswa didik untuk dapat mempersiapkan stamina, wawasan, manajemen perjalanan yang lebih matang lagi,” kata Alit. “Selain itu, kegiatan ini mendorong dan menjaga sikap tangguh, mandiri, serta membangun solidaritas peserta didik.”

Pemilihan Sikundo sebagai tempat pelatihan juga dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Satu di antaranya adalah sejarah. Desa ini dibangun oleh Cut Nyak Dhien pada masa peperangan dahulu. Desa ini difungsikan sebagai persembunyian, penyedia logistik dan tempat bergerilya karena lokasinya yang berada di hutan belantara.

Saat ini, desa seluas 12 ribu hektare itu dihuni oleh 400 jiwa, tepatnya berada di kawasan ekosistem Ulu Masen. Sekitar dua per tiga luasan Sikundo merupakan kawasan hutan yang sebelumnya dikuasai oleh perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk dimanfaatkan kayunya.

Sempat ditinggal warganya karena konflik Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia, Sikundo dibangun kembali pada 2005 atau sekitar 14 tahun silam. “Akses jalan ke dua dusun di desa itu masih sangat terbatas. Padahal keberadaannya sangat penting untuk aktivitas pendidikan dan perdagangan warganya,” kata Alit.

Di sela-sela pendidikan itu, PT Pegadaian area Banda Aceh membantu pembelian 10 unit lampu tenaga surya untuk warga desa. Sementara Yayasan Rumbia, sebagai lembaga yang fokus kepada energi bersih, dan BP3A, serta Dinas Sosial Aceh membantu melalui Tenaga Kesejahteraan Sosial Kemasyarakatan Kecamatan Pante Ceuremen untuk berkoordinasi di tingkat Muspika setempat.

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin
HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...