Unduh Aplikasi

Melihat Mualem Tanpa TA Khalid

Melihat Mualem Tanpa TA Khalid
Ilustrasi

TAK ada sosok Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Aceh, TA Khalid, pada pelantikan Pengurus Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh, Selasa malam lalu. 

Padahal Gerindra Aceh dan Partai Aceh memiliki hubungan yang sangat dekat. Bahkan Mualem, sapaan Muzakir Manaf, Ketua Partai Aceh, memilih Khalid sebagai wakilnya pada Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017. 

Mualem juga masuk sebagai salah satu Dewan Penasehat Daerah Partai Gerindra Aceh. Hal ini pula yang membuat banyak kader Partai Aceh “marah” dan memilih untuk tidak memilih pada pilkada yang akhirnya dimenangkan oleh Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah itu. 

 Absennya Khalid malam itu, jelas menimbulkan banyak tanda tanya. Apakah hubungan keduanya mulai retak atau ada hal lain?

Namun jika melihat perubahan personil dalam struktur Partai Aceh,  terlihat jelas upaya Mualem merajut kembali hubungannya dengan banyak pihak dalam keluarga besar Partai Aceh. Banyak dari mereka yang menolak langkah Mualem memilih orang luar sebagai calon wakil gubernur.

 Dalam struktur baru itu, Mualem menempatkan banyak orang di daerah-daerah. Ini adalah sebuah langkah maju. Semakin banyak yang terlibat dalam kepengurusan, akan semakin banyak kader yang memikul tanggung jawab membesarkan “rumah mereka”. 

Publik, terutama yang memiliki ikatan emosional dengan Aceh, tentu berharap perubahan ini juga diikuti dengan modernisasi partai tanpa meninggalkan ciri khasnya sebagai partai para pejuang Gerakan Aceh Merdeka. 

Partai Aceh harus mengejar ketertinggalan dengan melakukan perubahan-perubahan penting dan menjadi lebih peka terhadap persoalan keacehan saat ini. Termasuk mengkaji kembali langkah dalam merancang masa depan Aceh. Bukan sekadar memenangkan Pemilihan Umum 2019. 

Pemberitahuan Mulai Tender/Seleksi Sekda Aceh

Komentar

Loading...