Unduh Aplikasi

Media Online Harian Merdeka Dilaporkan ke Polda Aceh

Media Online Harian Merdeka Dilaporkan ke Polda Aceh
Mapolda Aceh. Foto: Net

BANDA ACEH - Dosen Fkip Universitas Syiah Kuala, Herman RN, resmi melaporkan media onlina Harian Merdeka ke Polda Aceh, terkait dugaan pencemaran nama baik pelanggaran Undang-undang ITE, Senin (1/10).

Dalam laporan ke polisi, Herman RN memilih kuasa hukum dari Zulfan Pahlawan dan Associates, yang terdiri dari Teuku Zulfab, Teuku Rachmad Kurniawan, Anhar Nasution, Mudfar Alianur, T Ade Pahlawan, Rieja Alfath Ramadhan, Dheni Rinaldi, dan Iqbal Farabi.

Salah seorang tim kuasa hukum Herman RN, Anhar Nasution menjelaskan laporan tersebut terkait pemberitaan di media tersebut yang telah menfitnah klien mereka dengan menggiring opini seakan-akan kliennya melakukan penistaan agama. Bahkan penggiringan opini publik ini berdampak pada keamanan pribadi dan keluarga klien mereka.

“Klien kami terus menerus mendapatkan teror, media itu mengutip sepenggal kalimat dari media lain tanpa hak klarifikasi pada klien kami, sehingga berita itu sangat tendesius dan tidak layak disebut sebagai sebuah berita jurnalistik,” kata Anhar Nasution dalam jumpa pers.

Selain itu, Anhar juga mengungkapkan dalam berita itu juga menanyangkan beberapa foto pribadi klien merekatanpa izin dan menyebutkan sumber. Media tersebut telah menyimpulkan dan beramsumsi dengan opini sendiri dan membuat keruh suasana dan berimbas terhadap isu sara yang bisa menimbulkan kekacauan dan perpecahan umat Islam.

Bukti laporan Herman RN ke Polda Aceh

“Berita yang ditayangkan di media itu terkesan mengadu domba majelis dzikir dengan klien kami. Kami sudah menempuh upaya klarifikasi dengan mengirimkan hak klarifikasi kepada redaksi media itu, namun hingga kini tidak ada upaya klarifikasi tersebut,” ungkapkan.

Bukannya hak klarifikasi yang diterima kliennya, yang ada penggiringan isu yang memberatkan kliennya dengan meminta kliennya hadir ke Pendopo Wali Kota Banda Aceh untuk menjelaskan permasalahan dihadapan majelis dzikir.

“Terlapor berusaha mencatut agenda rutin majelis dzikir dan pengajian gemilang Banda Aceh untuk menutupi kesalahannya karena telah menyebar fitnah,” ujarnya.

Tak hanya itu, Anhar menegaskan kalau kliennya itu hidup dalam keluarga Islami dan sudah menggenal dzikir sejak kecil, dan hingga kini juga aktif sebagai jamaah dzikir.

“Kalau penyebutan klien kami adalah orang yang menentang dzikir, ini merupakan pembohongan publik. Kami meminta aparat hukum untuk mengusut tuntas kasus ini dan menghukum pemilik media sesuai dengan sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Sementara itu, Herman RN mengaku pasca pemberitaan tersebut dirinya dipanggil oleh Rektor Unsyiah untuk menjelaskan isi pemberitaan yang dinilai sangat merugikan dirinya itu.

"Ada oknum yang mengirimkan berita itu ke rektor, kemudian saya dipanggil, tapi sudah saya jelaskan semua terkait pemberitaan itu," kata Herman RN.

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin
HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...