Unduh Aplikasi

Masyarakat Empat Gampong Geureudong Pase Keluhkan Optimalisasi Bantaran Sungai

Masyarakat Empat Gampong Geureudong Pase Keluhkan Optimalisasi Bantaran Sungai
Petani empat Gampong di Krueng Embang, Dayah Seupeng, Peudari, Pulo Meuriya, Kecamatan Geurudong Pase, Aceh Utara, Selasa (12/2), menunjukkan lokasi tidak maksimalnya arah aliran sungai yang menyebar ke persawahan warga karena tertutup dan menjadi kendala besar terhambatnya air irigasi yang mengalir di persawahan empat desa tersebut. Foto: AJNN.Net/Safrizal

ACEH UTARA - Empat Gampong di Krueng Embang, Dayah Seupeng, Peudari, Pulo Meuriya, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, Selasa (12/2), mengeluh tidak maksimalnya arah aliran sungai yang menyebar ke persawahan warga karena tertutup dengan tanah dan batu pada saat air sungai meluap.

Bahkan, petani harus menyewa mobil beko dan mengumpulkan uang iuran sebanyak Rp 30 ribu per Kepala Keluarga (KK) untuk membayar sewa alat berat agar air bisa mengaliri sawah mereka tanpa harus menunggu hujan turun pada saat musim tanam padi tiba.

Keluhan itu disampaikan oleh petani di empat gampong tersebut, mereka mengaku sering bergotong royong dan menyewa mobil beko (alat berat) agar bisa mengeruk tanah yang bercampur batu kerikil (batu kecil) yang tertutup sepanjang aliran sungai yang mengalir ke persawahan masyarakat setempat.

"Kendala petani dan masyarakat di empat desa disini hanya jalan aliran air sungai saja yang kerap ditutupi batu, saat kondisi hujan atau air sungai meluap. Hanya itu saja yang menjadi kendala besar untuk petani diempat gampong kami," kata salah seorang petani warga Gampong Krueng Embang, Sarwali.

Hal senada juga diungkapkan Zulkifli, bahkan apabila hujan deras air yang mengalir di sungai kerap menutupi irigasi oleh bebatuan dan kerikil di sungai yang menghubungkan diempat desa tersebut. Bila sudah begitu, petani harus menunggu air hujan saat musim tanam padi di sawah tiba, dan itu sangat merugikan mayarakat, karena tidak memanfaatkan air yang mengalir deras di sungai ke desa setempat.

"Jika aliran sungai sudah tertutup batu dan krikil kami terpaksa mengumpulkan uang iuran untuk menyewa mobil beko untuk mengeruknya, jika dilakukan secara manual membutuhkan waktu berhari-hari tetapi dengan mobil beko hanya butuh waktu enam jam saja," ujar Zulkifli.

Seharusnya kata Zulkifli, terkait persoalan ini Pemerintah Aceh Utara seharusnya bisa duduk bersama petani empat desa disini untuk mencari solusi bagaimana caranya, agar air di sungai tersebut jangan sampai tertutup dan tersumbat lagi.

"Karena irigasi yang baru dibangun dengan anggaran mencapai Rp 3 miliar tersebut tidak berfungsi sama sekali bagi kami petani di empat desa disini, apabila tidak dilakukan normalisasi di alur sungai yang kerap ditutupi batu dan krikil bila hujan deras tiba," jelas Zulkifli.

Dirinya menambahkan terkait persoalan tersebut, pihaknya diempat desa berharap ada sebuah solusi agar dengan adanya irigasi yang baru dibangun tersebut, masyarakat dikawasan tersebut bisa melakukan aktifitas di sawah tanpa harus menunggu saat musim hujan turun saja.

"Sangat tidak mungkin jika turun kesawah hanya saat tunggu musim hujan saja, sedangkan sungai mengalir deras di perkampungan kami. Sementara penormalisasian tidak dilakukan di sungai agar air bisa mengalir dengan baik," imbuhnya.

Selain itu, masyarakat juga berharap pemerintah dapat memberi dan mencari solusi bagaimana aliran sungai di persawahan yang meliputi empat desa tersebut, jangan sampai tertimbun batu lagi di aliran sungai saat air hujan tiba.

"Kami berharap pemerintah serius dalam penanganan hal ini. Karena setiap tersumbat kami terus-terusan menyewa beko, jadi setiap tertutup kami mudah untuk mengeruk kembali, tidak harus menunggu patungan iuran, terkadang karena rakyat kecil, mereka mengeluh, karena Rp 30 ribu itu sangat banyak, mengingat perekonomian sekarang sangat pas-pasan," ujar Zulkifli.

Sabang Marine 2019

Komentar

Loading...