Unduh Aplikasi

BAU AMIS KEMENAG DI NEGERI TEUKU UMAR

Mantan Ketua STAIN: Abang Menag Pernah Minta Proyek ke Saya

Mantan Ketua STAIN: Abang Menag Pernah Minta Proyek ke Saya
Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh.

ACEH BARAT - Meski tidak mengetahui penyebab pasti dirinya gagal dilantik kembali menjadi Ketua STAIN Teungku Dirundeng, Dr Syamsuar mengungkap fakta lain terkait dugaan jual beli jabatan di Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia.

Syamsuar mengaku pernah dilobi Ahmad Baihaki Syaifuddin yang merupakan abang kandung Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin terkait pengelolaan proyek pembangunan gedung STAIN yang dibiayai oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) senilai Rp 26 miliar

Baca: Mantan Ketua: Ada Kejanggalan Suksesi Ketua STAIN Dirundeng

Lobby yang dilakukan Ahmad Baihaki Syaifuddin saat itu untuk meminta pengelolaan pembangunan gedung STAIN yang dibiayai oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) senilai 26 miliar rupiah melalui proyek SBSN.

Syamsuar mengungkap, lobi tersebut dilakukan Ahmad Baihaki di salah satu restoran di Jakarta. Saat itu abang dari Menag itu meminta agar proyek pembangunan gedung kampus itu dikerjakan olehnya. Namun Syamsuar menyarankan agar Ahmad Baihaiki ikut lelang.

"Saya sempat dilobi oleh Abang Menag, Ahmad Baihaki Syaifuddin minta agar pelaksana proyek SBSN senilai 26 miliar. Saya bilang boleh saja namun ikut tender," ungkapnya.

Bahkan saat itu, Ahmad Baihaki Syaifuddin sempat menyinggung pencalonan kembali Syamsuar sebagai ketua STAIN.

Tak hanya berhenti di situ, sebelum ikut lelang proyek tersebut Ahmad Baihaki menurunkan tim ke kampus STAIN Teungku Dirundeng untuk melakukan survei guna menyiapkan syarat lelang.

Dikatakan Syamsuar, saat itu tim Ahmad Baihaki Syaifuddin juga sempat menemuinya untuk memuluskan lelang tersebut. Bahkan ditawarkan fee atau ijon proyek jika Ahmad Baihaki Syaifuddin memenangkan proyek itu.

Namun meski diiming-imingi ijon proyek Syamsuar mengaku menolak, dan tetap meminta mereka ikut prosedur yang telah ditentukan.

"Saat dilobi dan ditawarkan proyek saya tolak dan saya sampaikan pesan Menag agar kami menjaga marwah Kementrian agama, dan tidak melakukan hal yag tidak terpuji," katanya.

Syamsuar menduga dirinya tidak terpilihnya kembali sebagai Ketua STAIN Teungku dirundeng Meulaboh karena tidak meloloskan abang dari Menag untuk menjadi pelaksana proyek.

Dugaan Syamsuar itu juga diperkuat dengan pernyataan Mahfud MD saat menjadi narasumber di Program Indonesia Lawyer Club (ILC).

Menuruf Mahfud, seharusnya yang dilantik menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Negeri Teungku Dirundeng itu adalah Syamsuar, bukan Innayatillah.

"Dia (Samsuar) satu-satunya orang yang memenuhi syarat dan terpilih sebagai rektor, tetapi menurut aturannya, PMA (Peraturan Menteri Agama) Nomor 68 itu calonnya harus tiga, padahal di (STAIN) itu tidak ada calon lain yang memenuhi syarat, sehingga didatangkalah calon dari luar untuk formalitas. ternyata yang terpilih itu yang dari luar," katanya.

Komentar

Loading...