Unduh Aplikasi

BAU AMIS KEMENAG DI NEGERI TEUKU UMAR

Mantan Ketua: Ada Kejanggalan Suksesi Ketua STAIN Dirundeng

Mantan Ketua: Ada Kejanggalan Suksesi Ketua STAIN Dirundeng
Mantan Ketua STAIN Teungku Dirundeng, Syamsuar

ACEH BARAT - Mahfud MD membongkar kasus jual beli jabatan lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) saat menjadi narasumber di Program Indonesia Lawyer Club (ILC) yang berlangsung pada Selasa, (19/3) malam.

Pada kesempatan itu Mahfud bahkan ikut membongkar kejanggalan terhadap pelantikan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh. Menuruf Mahfud, seharusnya yang dilantik menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Negeri Teungku Dirundeng itu adalah Syamsuar, bukan Innayatillah.

"Dia (Samsuar) satu-satunya orang yang memenuhi syarat dan terpilih sebagai rektor, tetapi menurut aturannya, PMA (Peraturan Menteri Agama) Nomor 68 itu calonnya harus tiga, padahal di (STAIN) itu tidak ada calon lain yang memenuhi syarat, sehingga didatangkalah calon dari luar untuk formalitas. ternyata yang terpilih itu yang dari luar," katanya.

Sementara itu, mantan Ketua STAIN Teungku Dirundeng, Syamsuar membenarkan apa yang disampaikan Mahfud dalam acara ILC tersebut. Syamsuar mengaku merasa ada yang janggal atas dilantiknya Innayatillah sebagai Ketua.

"Enam bulan lalu saya sempat mencalonkan diri. Namun saat itu saya menjadi calon tunggal karena tidak ada calon lain. Saat itu berkas saya diantar oleh senat ke Kemenag. Jadi karena calon tunggal saya kemudian dipanggil oleh Direktur Pendidikan Tinggi Prof Arska Salim dan diminta untuk mencari pengantar, karena harus ada tiga calon minimal," kata Syamsuar.

Atas permitaan itu tim seleksi membuka kembali pencalonan ketua STAIN yang sebelumnya sepi peminat. Bahkan untuk dua calon yang mendaftar itu hasil lobi yang dilakukan Syamsuar dan Muchsinuddin yang saat itu merupakan ketua Pansel.

Dikatakan Syamsuar, saat itu dia melobi Dr Azhar untuk maju sebagai calon dan Muchsinuddin melobi Innayatillah sehingga keduanya bersedia menjadi calon.

"Setelah mereka mendaftar, maka sayadan Dr Azhar dan Innayatillah memaparkan visi misi di hadapan pansel dan senat. Karena ketiganya dianggap layak lalu berkas kami bertiga diantarkan ke Kemenag untuk ikut fit and proper test di Jakarta," ujarnya.

Syamsuar mengaku saat fit and proper test yang dilaksanakan Komisi Seleksi (Komsel), dia membiayai kebutuhan Dr Azhar dan DR Innayatillah secara pribadi karena keduanya merupakan peserta luar kampus sehingga biayanya tidak ditanggung sama STAIN.

Saat itu, Abi Syamsuar merasa tidak ada yang janggal apalagi kedua calon ketua tersebut hanya disiapkan untuk mengantarkannya kembali menjadi Ketua STAIN periode ketiga.

"Memang saat itu mereka sempat serius dan belajar habis-habisan sebelum mengikuti fit and proper test. Namun saya berfikir mereka belajar agar tidak terlalu janggal di hadapan Komsel saat fit and proper test," ungkap Abi.

Dikatakan Syamsuar, pasca fit and proper test dirinya dan Dr Azhar kembali ke Aceh, hanya Innayatillah yang tidak kembali.

Sebelum pulang Syamsuar mengungkapkan tim Komsel menyampaikan padanya nanti kalau dilantik ia akan dihubungi kembali, namun dua hari menunggu kabar ternyata kabar yang ia peroleh Innyatillah yang dilantik.

Kepastian Innayatillah dilantik diketahui Syamsuar dari Wakil Rektor II, Syahbuddin Gadai. Mendapat informasi tersebut ia sempat menghubungi Direktur Pendidikan Tinggi, Arska Salim. Arska beralasan pelantikan tersebut berdasarkan hasil perangkingan dari Komsel.

"Namun saya merasa aneh juga karena saat fit and proper test yang ditanya visi misi calon. Kan aneh kalau visi misi sendiri saya nggak tahu kan aneh, apalagi saya sudah dua periode setengah jadi ketua," sebutnya.

Yang pasti, sebutnya saat itu Innyatillah tidak pulang usai fit and proper test dan tiba di Jakarta sehari sebelum fit and proper test dilaksanakan. Namun Syamsuar menegaskan ia tidak mau mencurigai apalagi hingga menuduh adanya jual beli jabatan dalam menduduki posisi tertinggi di STAIN Teungku Dirunding Meulaboh.

"Tapi saya tidak mau mencurigai. Bisa jadi Ibu Innayatillah enggak pulang dulu karena ingin liburan di Jakarta bersama suaminya yang kebetulan ikut saat itu," kata Abi Syamsuar.

Komentar

Loading...