Unduh Aplikasi

Lapas Meulaboh Gelar Cambuk Perdana terhadap Warga Non Muslim

Lapas Meulaboh Gelar Cambuk Perdana terhadap Warga Non Muslim
Cambuk di Lapas Meulaboh. Foto: Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Kejaksaan Negeri Nagan Raya menggelar eksekusi uqbat cambuk terhadap seorang warga non muslim bernama Toroziduhu Zebua, selaku terpidana cambuk. Eksekusi uqbat cambuk tersebut berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Meulaboh, Selasa (15/5), sekitar pukul 11.00 WIB.

Toroziduhu Zebua, mendapat hukuman cambuk sebanyak 45 kali, atas kasus menjual minuman keras (qamar), di wilayah hukum Nagan Raya. Usai dicambu toro langsung sujud syukur.

Kepala Kejadi Nagan Raya, Kuncoro, mengatakan eksekusi cambuk yang dilakukan di Lapas Kelas II B Meulaboh sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Cambuk.

"Di Aceh, ini yang pertama kali cambuk kami lakukan di lapas setelah kami tandatangani kerjasama dengan pihak lapas. Pelaksanaan cambuk ini sesuai dengan pergub nomor 5 Tahun 2018," kata Kuncoro.

Eksekusi cambuk atas Toro, kata dia, berdasarkan vonis Mahkamah Syariah Meulaboh. Toro, berdasarkan vonis mendapat 50 kali cambuk atas perbuatannya yang menjual miras di Nagan Raya. Namun setelah pemotongan masa tahanan selama 90 hari, maka toro dijatuhi 45 kali cambuk.

Dirinya mengatakan pelaksanaan hukuman cambuk tersebut tidak tertutup atau dapat disaksikan oleh masyarakat, namun untuk membatasi agar tidak disaksikan oleh anak di bawah umur, maka pelaksaanaannya dilakukan di Lapas.

"Kami juga ikut umumkan di Nagan Raya atas pelaksanaan uqbat cambuk terhadap satu terpidana ini kok," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas II B Meulaboh, Jumadi, mengatakan dalam pelaksanaan cambuk itu pihaknya tidak tertutup dan dapat diliput oleh wartawan dan disaksikan oleh masyarakat. Namun memang sangat ketat dan harus melalui pemeriksaan. Itu dilakukan lantaran dikwatirkan jika terlalu terbuka bisa berbahaya bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

"Untuk warga kami sudah sediakan tempat diposisi belakang pagar sana. Kami nggak nututup-nutupi, siapa saja boleh lihat termasuk wartawan liputan," kata Jumadi.

Namun ia mengakui karena eksekusi cambuk di lapas tersebut baru sekali, dilakukan sehingga masyarakat tidak bisa masuk dengan mudah dan harus mengikuti prosedur yang diberlakukan.

Sementara, Toroziduhu Zebua, mengaku memilih hukuman cambuk sebagai bentuk penghormatannya atas pemberlakuan hukum syariat Islam di Aceh, bukan atas desakan atau paksaan harus menerima eksekusi cambuk tersebut. Ia bisa saja memilih pidana kurungan, karena ia mendapatkan hak memilih kurungan sebagai non muslim, namun ia lebih memilih dicambuk.

"Jadi menurut saya begini, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, jadi saya harus hormati hukuman yang berlaku disini, makanya saya tidak memilih kurungan," kata Toro.

Toro mengaku merupakan pendatang dari Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Menurutnya ia pantas menerima hukuman cambuk lantaran telah berbuat salah dengan menjual miras di Aceh yang merupakan daerah syariat Islam.

Dari pantauan AJNN, saat proses uqbat cambuk berlangsung tidak ada warga yang menyaksikan selain dari WBP. Bahkan untuk dapat tembus kedalam Lapas itu sendiri sangat sulit serta harus melewati penjagaan yang sangat ketat.

Komentar

Loading...