Unduh Aplikasi

Kuliner Penyumbang Tertinggi Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Kuliner Penyumbang Tertinggi Pertumbuhan Ekonomi Aceh
Mie, menjadi salah satu kuliner yang menjadi buruan wisatawan ketika berkunjung ke Aceh. Foto: Net

BANDA ACEH - Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis pertumbuhan ekonomi Aceh hingga triwulan ke IV tahun 2018 mencapai 4,61 persen dari minyak dan gas bumi. Kemudian jika tanpa migas hanya 4,49 persen.

Kepala BPS Aceh Wahyudin mengatakan, berdasarkan data, pertumbuhan ekonomi Aceh terjadi hampir diseluruh sektor usaha. Namun kuliner dan pupuk menjadi penyumbang tertinggi tumbuhnya ekonomi Aceh saat ini.

"Kuliner Aceh memiliki pertumbuhan tertinggi yakni mencapai 8,28 persen, lalu lapangan usaha industri pengolahan 8,26 persen, serta lapangan usaha pendidikan sebesar 7,94 persen," kata Wahyudin kepada wartawan di aula Kantor BPS Aceh, Rabu (6/2).

Wahyudin menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Aceh tak hanya didukung dengan usaha penyediaan akomodasi serta kuliner saja. Tetapi juga dipengaruhi hadirnya aplikasi belanja makanan dan minuman secara online, apalagi didukung banyaknya kuliner disetiap daerah kabupaten/kota Se Aceh.

Sementara itu, dari sektor industri pengolahan juga terlihat bagus seiring meningkatnya produksi Pupuk Iskandar Muda (PT PIM). Tetapi juga tidak terlepas karena membaiknya pasokan gas.

Tak hanya itu, menurut Wahyudin, meningkatnya jumlah mahasiswa baik di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh juga mendorong pertumbuhan lapangan usaha dibidang pendidikan.

"Dengan banyaknya penambahan program studi di kampus, maka alokasi anggaran juga akan bertambah," ujarnya.

Wahyudin menuturkan, perekonomian Aceh 2018 ini diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga mencapai Rp155,91 triliun dengan PDRB perkapitanya sebesar Rp 29,73 juta.

"Lalu, jika PDRB tanpa migas mencapai Rp 150,35 triliun dengan PDRB perkapitanya migas berjumlah Rp 28,67 juta," sebutnya.

Wahyudin menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Aceh 2018 lebih tinggi bila dibanding dengan 2017. Tahun ini, perekonomian dengan migas mencapai 4,61 persen, sedangkan 2017 hanya 4,18 persen.

"Sementara tanpa migas pada 2018 sebesar 4,49 persen, capaian itu juga lebih tinggi dari tahun 2017 yang hanya 4,13 persen," ungkap Wahyudin.

Komentar

Loading...