Unduh Aplikasi

Korban Sodomi Oknum Sekdes Bertambah Jadi 26 Orang

Korban Sodomi Oknum Sekdes Bertambah Jadi 26 Orang
ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT DAYA - Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Harmansyah mengatakan korban sodomi yang diduga dilakukan oleh oknum Sekdes salah satu Gampong di Kecamatan Labuhan Haji Aceh Selatan, MA (40) yang juga seorang guru mengaji itu mencapai 26 orang.

"Setelah kita lakukan interogasi, ternyata korban jadi total 26 orang," kata Harmansyah kepada wartawan, Minggu (11/2).

Baca: Oknum Sekdes Diduga Sodomi 19 Siswa SMP

Kata Harmansyah mereka mengetahui setelah mengembangkan kasus ini melalui korban dan juga guru para siswa yang menjadi korban itu, sehingga diketahui bahwa masih ada korban pelecehan seksual (sodomi) lainnya.

Dalam upaya menelusuri apakah masih ada korban lain lagi, P2TP2A akan terus melakukan koordinasi dengan pihak Polres Abdya.

"Kami terus melakukan pendampingan korban dan kita terus melacak apa ada penambahan atau tidak," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, terduga pelaku telah melakukan sodomi terhadap 19 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Abdya.

Kapolres Abdya AKBP Andy Hermawan, SiK.M.Sc melalui Kasat Reskrim Iptu Zulfitriadi SH membenarkan telah terjadi dugaan pelecehan seksual sodomi terhadap anak di bawah umur yakni siswa SMP di Abdya, saat ini sudah 19 orang siswa yang telah menjadi korban perbuatannya tersebut. Dan terduga pelaku diketahui juga merupakan seorang guru mengaji, yang kini sudah diamankan Polres Abdya.

"Pelaku kerja sebagai Sekdes di Kecamatan Labuhan Haji, dan dia tinggal di Blangpidie Kabupaten Abdya, yang bersangkutan sudah kita amankan dan ditahan di Polres Abdya," kata Zulfitriadi kepada AJNN, (30/1) lalu.

Harmansyah menyampaikan, kasus ini sebenarnya sudah tergolong lama yakni sejak 2013, hal itu diketahui atas pengakuan pelaku. Dan terduga pelaku tersebut merupakan orang luar Abdya yang menikah disana.

Dan, lanjutnya, ternyata berdasarkan pengakuannya, pelaku juga sudah pernah menjadi korban sodomi dulunya saat ia masih mengenyam pendidikan SMP.

"Pelaku juga pernah jadi korban saat dia masih SMP, ini ada riwayat sehingga hari ini dia melakukan hal seperti itu," jelas Harmansyah.

Karena itu, pihaknya akan terus melakukan pendampingan dan menangani korban secara baik sehingga di kemudian hari tidak menjadi pelaku. Bukan hanya terhadap anak saja, P2TP2A juga memberikan pemahaman kepada orang tua korban supaya bisa memahami pentingnya pendampingan itu dilakukan, apalagi korban masih berumur antara 10 sampai 14 tahun.

Komentar

Loading...