Unduh Aplikasi
WTP Pemerintah Aceh 2019

Kopi Impor di Cangkir Kita

Kopi Impor di Cangkir Kita
Ilustrasi: Megan Coyle

KOPI adalah penanda kehidupan di Aceh. Di sini, secangkir kopi adalah pembuka aktivitas di pagi hari dan menjadi pengantar tidur. Dan salah satu varietas kopi yang paling diburu adalah kopi robusta. Seiring perjalanan waktu, kopi ini lantas dikenal dengan kopi saring untuk membedakan dengan kopi arabika yang disajikan lewat mesin.

Robusta biasa dibudidayakan di dataran rendah meski lokasi terbaik mengoptimalkan pertumbuhannya di ketinggian 400-800 meter di atas permukaan laut. Di Aceh, salah satu daerah yang memproduksi kopi ini adalah Aceh Jaya.

Namun jika diukur dari kebutuhan terhadap kopi robusta, hasil dari kebun-kebun di Aceh Jaya tak mencukupi. Di desa penghasil kopi di Aceh Jaya, Desa Sabet, per tahun hanya mampu memproduksi 10 sampai 15 ton. Secara keseluruhan, jumlah kebun kopi robusta di Aceh Jaya hanya sekitar 1.803 hektare dengan produksi sebesar 445 ton, tahun lalu.

Dengan meningkatnya tren ngopi di berbagai daerah di Indonesia, kopi robusta memiliki kesempatan untuk berkembang lebih luas lagi. Beberapa daerah yang memungkinkan untuk ditanami kopi robusta, seperti di Pidie, mulai mengembangkan kembali kopi ini karena memang pasarnya masih sangat berkembang.

Data Pemerintah Pusat menyebut tingkat pengelolaan lahan kopi masih rendah. Seperti dikutip dari sebuah media nasional, kebun kopi yang dikelola keluarga petani di Indonesia hanya seluas 0,71 hektare per keluarga untuk jenis robusta dan 0,6 hektare untuk jenis arabika.

Padahal luasan kebun ideal untuk setiap keluarga petani adalah 2,7 hektare. Tingkat produktivitas dari setiap kebun juga masih rendah. Hanya sekitar 500 kilogram per hektare. Padahal di Vietnam, petani di sana bisa menghasilkan 2,7 juta ton kopi per hektar.

Karena itu, sudah selayaknya Pemerintah Aceh menyikapi hal ini. Salah satunya adalah dengan mendorong peningkatan produksi kopi, terutama kopi robusta, di tingkat petani.

Mereka harus diyakinkan untuk menanam karena ceruk perdagangan kopi robusta masih sangat dalam dan harus segera diisi. Jangan sampai kebutuhan kopi yang terus meningkat ini malah "diimpor" dari daerah lain, terutama dari Lampung, yang terus mengembangkan “emas hitam” ini.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...