Unduh Aplikasi
WTP Pemerintah Aceh 2019

Kisah Lautan Darah Manusia di Sulawesi Utara

Kisah Lautan Darah Manusia di Sulawesi Utara
Foto: Detik

SULAWESI UTARA- Tanjung Merah disebut-sebut sebagai desa tertua di Bitung, Sulawesi Utara. Asal usul nama desa ini rupanya diwarnai oleh sejarah yang cukup kelam.

Jika traveler liburan ke Bitung, Sulawesi Utara jangan cuma menyelami keindahan bawah laut Selat Lembeh saja. Selami juga wisata sejarah di kota ini yang tak kalah menariknya. Salah satunya soal Tanjung Merah, desa tertua di Bitung.

Pekan lalu, detikTravel bersama rombongan media dari Jakarta diajak berkunjung ke desa ini oleh Dinas Pariwisata Kota Bitung. Setiba di kawasan Pantai Tanjung Merah, kami sudah disambut oleh Bobby M Rumawung, Lurah Tanjung Merah.

Bobby pun mulai bercerita tentang sejarah desa yang dipimpinnya dan bagaimana desa ini bisa sampai diberi nama Tanjung Merah. Tidak diketahui dari tahun berapa perkampungan di desa ini ada, tapi yang jelas sudah berabad-abad silam.

"Waktu dulu, ini dorang kasih nama Tanjung Dak artinya Tanjung Berdarah atau Tanah Berdarah. Di zaman Portugis, ini tempat perkelahian (pertempuran). Kalau dilihat dari laut, tanjungnya sampai berwarna merah. Banyak yang mati di laut ini," kisah Bobby kepada detikTravel, Senin (18/2/2019) pekan lalu.


Pertempuran ini terjadi antara pasukan Portugis melawan masyarakat Suku Loloda yang menguasai wilayah tersebut. Pertempuran berlangsung sengit, sampai akhirnya pasukan Portugis berhasil dikalahkan dan dipukul mundur.

"Kapal-kapal (Portugis) mau masuk, tapi dihalangi oleh Tua-tua Kampung sini. Jadilah pertempuran lawan pendatang Portugis. Berkelahi pakai senjata, tombak. Lautan sampai berdarah," jelas pria yang baru 2 tahun menjabat jadi Lurah Tanjung Merah.

Dari situlah nama Tanjung Merah disematkan untuk daerah ini. Kini, lokasi pantai dimana pertempuran antara Portugis dan masyarakat itu terjadi, berubah menjadi destinasi wisata bagi warga lokal.

Saat detikTravel berkunjung ke sini, tampak beberapa orang pengunjung dan anak-anak bermain ayunan di kawasan pantai. Mereka datang naik mobil bersama dengan orang tuanya. Menurut Bobby, pantai ini paling ramai kalau akhir pekan atau saat hari libur.

Tak seperti namanya, warna pasir pantai di Tanjung Merah bukanlah merah, melainkan hitam. Tidak seperti pantai kebanyakan yang pasirnya berwarna putih. Tapi justru pasir berwarna hitam itulah yang membuat Pantai Tanjung Merah tampak eksotis.

Di depan pantai ini, terpampang perairan Selat Lembeh yang teduh dan cenderung tidak berombak. Warna air lautnya biru jernih, sungguh memanjakan setiap mata yang melihatnya.

Di bibir pantainya, juga ada banyak pohon peneduh sehingga suasananya sangat asri dan sejuk untuk sekadar duduk-duduk santai. Kalau mau sambil minum kopi atau teh, ada warung-warung yang siap membuatkannya untuk traveler.

Suasananya juga sangat tanang dan sepi, cocok buat relaksasi. Traveler bisa juga berkunjung ke pantai ini buat refreshing pikiran yang suntuk.

Tidak ada biaya masuk yang ditetapkan ke pantai ini alias masih gratis. Namun kekurangannya, jalan masuk menuju ke pantai ini masih belum teraspal dengan baik.

Perjalanan terpaksa harus dilanjutkan dengan jalan kaki menuju ke areal pantai. Tapi itu tidak mengurangi keeksotisan pantai berpasir hitam ini.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...