Unduh Aplikasi

Kisae, Mahasiswi Cantik Asal Jepang Pecinta Kopi Aceh dan Pandai Dabuh Rapai

Kisae, Mahasiswi Cantik Asal Jepang Pecinta Kopi Aceh dan Pandai Dabuh Rapai
Kisae saat bermain Rapa’i di Lhokseumawe. Foto: Sarina

LHOKSEUMAWE – Mahasiswi cantik asal Kota Tajimi, Provinsi Gifu Jepang bernama Kisae, lima bulan sudah berada di Provinsi Aceh. Wanita berusia 20 tahun itu terpilih dalam program pertukaran mahasiswa Indonesia-Jepang dan saat ini sedang belajar di di Univeristas Al-Muslim, Kabupaten Bireuen.

Kisae, merupakan mahasiswi Universitas Nagoya Gakuin Jepang. Namun sejak 20 September 2018 lalu dirinya berkesempatan dalam program pertukaran mahasiswa Indonesia-Jepang hingga Juni 2019 mendatang. Di Universitas Al-Muslim, Kisae saat ini sedang belajar dan menggeluti seni budaya Aceh.

“Saya merupakan salah satu dari dua mahasiswa yang berkesempatan dalam pertukaran pelajar Indonesia-Jepang. Dan saat ini saya tinggal di asrama tepatnya di Matang, Kabupaten Bireuen,” kata Kisae dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata kepada AJNN, Sabtu (2/3).

Kisae mengaku, pertama sekali dirinya berkesempatan datang ke Aceh, Ia merasa takut dengan Islam. Karena, menurut pandangannya selama ini Islam sering terjadi konflik dan pertingkaian. Akan tetapi sering waktu berjalan, Kisae mengaku sangat nyaman berada di Aceh.

“Awalnya saya takut, namun setelah tiba di Aceh saya sangat senang, karena ternyata Islam khususnya orang Aceh sangat ramah dan persatuan agamanya sangat kuat. Kalau ada tamu yang datang, saya misalkan tetap disambut dengan ramah seperti saudara,” ungkap Misae saat berjumpa di salah satu Warung Kopi di Pusat Kota Lhokseumawe.

Sejak lima bulan berada di Bireuen, Provinsi Aceh khususnya semenjak belajar di Universitas Al-Muslim, ada berbagai seni tarian yang sudah dipelajarinya. Diantaranya, tarian Ratoh Duek, Ratoh Jaroe, dan Rapai Geleng. Selain itu dirinya juga mengaku, sangat menyukai kopi Aceh.

“Saya sangat senang dengan Rapai Geleng, saya senang karena waktu seni itu dimainkan ada penghormatan yang sangat luar biasa, dan saya juga sudah bisa sedikit bermain rapai setelah belajar beberapa bulan,” ujar Kisae sembari mencoba memukul Rapa’i yang baru saja dibelinya Rp350 ribu.

Kisae mengaku, Rapa’i itu dibeli rencana akan di bawa pulang ke Jepang sebagai cenderamata. Dan dirinya juga mengaku sangat senang bisa berkesempatan kuliah di Aceh, meskipun Ia mengaku ketika baru-baru datang sempat dibohongi oleh orang tak bertanggungjawab, karena tidak tau alamat untuk ke asrama.

“Awal-awal ada yang bohongi saya, saya mau ke sini tapi ditarik di ajak ke sana. Tapi saya tidak mempermasalahkannya lagi dan saya sudah melupakan itu. Kesan saya yang pastinya, saya sangat senang dan bahagia bisa ke Aceh, orangnya ramah, Islamnya kuat dan saya kalau pulang ke Jepang pasti ingin kembali ke sini,” imbuh Kisae.

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin

Komentar

Loading...