Hasanudin
Unduh Aplikasi

Kesaksian Petrus atas Kisah Ama Gajah

Kesaksian Petrus atas Kisah Ama Gajah
Petrus

BANDA ACEH - Petrus--sapaan Fadhli Abdullah--membenarkan sembari menerawang jauh mencoba mengingat kembali kejadian terkait nukilan Fauzan Azima alias Ama Gajah, tentang situasi pada tahun 2004 silam yang turut menyebut dirinya itu. Sebatang rokok filter berwarna putih ia bakar dan asap mengepul, Petrus memulai percakapan dengan mengisahkan keadaan Aceh yang masa itu berstatus darurat militer.

Ditemui AJNN di salah satu warkop kawasan Pangoe, Banda Aceh pada Sabtu (12/5) malam. Petrus mengisahkan, saat itu Mualem--Muzakir Manaf--dan pasukan GAM tinggal di sebuah dusun bernama Pulo Musang terletak di Gampong Darusalam, Kemukiman Simpang Tanjong, Kecamatan Peusangan Selatan. Sebagai pasukan geriliya, Mualem dan pasukan GAM tentu saja harus berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak terendus pihak lawan kala itu.

Baca: Cerita Fauzan Azima Bersama Petrus Menjaga Muallim

Petrus menyebutkan ada dua tim dalam pasukan Mualem tersebut, yang pertama tim pimpinan Cut Manyak Wakil Panglima GAM wilayah Batee iIiek sebanyak sembilan orang. Kemudian tim yang kedua merupakan tim Mualem sendiri berjumlah enam orang, totalnya lima belas orang. Pasukan ini selalu bergerak bersama, karena bertugas melindungi dan mengawal Mualem. Kekuatan senjata yang dimiliki saat itu sebanyak tiga belas pucuk senjata berbagai jenis dan ukuran termasuk salah satunya senjata mesin RPD.

Petrus mengernyitkan dahinya kemudian melanjutkan cerita. Waktu itu bertepatan bulan puasa di tahun 2004, namun ia tidak mengingat pasti tanggal dan puasa keberapa saat itu. Diseberang bukit kecil, pasukan GAM sedang beristirahat diantara rimbunnya kebun pisang milik warga. Mereka tak satupun yang menyadari kalau Dahlan pasukan GAM telah turun ke perkampungan dan tertangkap oleh serdadu TNI. Dahlan merupakan seorang disersi polisi.

Melalui alat komunikasi radio handy talky (HT) yang digunakan untuk menyadap informasi dan mengetahui pergerakan serta perintah dari unsur pimpinan TNI-Polri kepada pasukan mereka di lapangan. Tiba-tiba Husaini Franco mendengar percakapan dari radio pasukan ke radio induk, ternyata pasukan Kopassus yang berjumlah delapan orang sudah mengepung pasukan GAM dan Mualem dengan jarak tembak aman, jaraknya sekitar 50 meter.

Kewaspadaan mulai ditingkatkan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Lalu terlihat tanda-tanda pergerakan, pasukan elit tersebut ada yang mengendap dan ada pula yang merangkak perlahan. Mengetahui pasukan tersebut semakin mendekat, Mualem memberi instruksi kepada pasukannya untuk mundur secara diam-diam tanpa diketahui pihak lawan. Satu persatu, pasukan GAM mulai mundur dengan cara merayap ke balik bukit-bukit kecil di daerah Pulo Musang tersebut.

Dari radio HT sadap tersebut, pasukan kopassus tersebut tenyata melapor langsung kepada Garuda 1. Dalam laporannya pasukan TNI memberitahukan ciri-ciri pasukan yang mereka temui. Pertama mereka menyebut seorang pria dengan ciri-ciri hidung mancung dan terdapat tahi lalat, Garuda 1 langsung menyebut "yang itu M2 (Mualem)". Kemudian yang satu pria berpotongan rambut agak gondrong dengan menenteng senjata mesin RPD, Garuda 1 langsung mengatakan "itu Petrus", dan begitu seterusnya.

Untuk beberapa saat Petrus terdiam, kemudian dia mengatakan alasan Mualem saat itu kenapa memilih mundur. Medan perbukitan yang hanya ditumbuhi ilalang mengharuskan pasukannya merayap sejauh lebih kurang 200 meter. Dengan kondisi seperti itu, Mualem memiliki pertimbangan posisi pasukannya tidak diuntungkan untuk melakukan penyerangan.

Setiba di titik yang dirasa aman, Husaini Franco kembali memantau situasi melalui radio HT yang berada di gengamannya. Hasilnya diperoleh informasi kenapa pasukan TNI tersebut tidak melakukan penembakan terhadap mereka. Perintah Garuda 1, jangan lakukan penembakan dan tangkap dalam keadaan hidup. "Alhamdulillah, akhirnya kami selamat" ujar Petrus.

Kemudian dari radio pantau yang satu lagi, ada informasi bahwa pasukan TNI-Polri sudah standby di Koramil Matang, Peusangan sebanyak tujuh unit mobil truck reo. Ditambah lagi dari Pante Lhong sebanyak lima reo, totalnya ada dua belas unit truck reo. Selanjutnya pasukan TNI dari arah Krueng Simpo juga sudah mulai bergerak menuju ke arah pasukan Mualem.

Melihat situasi sudah semakin terjepit, Mualem memberi peritah untuk keluar menuju titik aman. Pasukann GAM bergerak ke arah Leubok Seutui, masih di Kecamatan Peusangan menuju ke arah Sawang. Pasukan bermalam disana, kemudian mualem memerintahkan Cut Manyak agar mengirimkan seorang utusan, untuk menghubungi Fauzan Azima selaku Panglima GAM wilayah Linge.

Tidak hanya menunggu, pasukan yang dipimpin Mualem juga bergerak menuju wilayah pasukan Linge, melintasi jalan KKA lalu kemudian menyeberangi sungai yang airnya sangat deras ditambah dengan bebatuan yang ukurannya besar. Dua hari perjalanan, pasukan pimpinan Mualem dan pasukan pimpinan Fauzan Azima bertemu di pertengahan jalan yakni di daerah wisata Gunung Salak sekarang.

Selesai istirahat malam, sekitar jam sembilan pagi pasukan melanjutkan perjalanan ke bukit Rebol. Tempat itu dipilih karena dianggap aman dan Mualem beserta pasukan GAM sempat bertahan di lokasi tersebut beberapa bulan lamanya.

Sambil tertawa kecil, Petrus menceritakan kisah lucu yang dialaminya dalam perjalanan menuju bukit Rebol itu. Semua pasukan yang dalam kondisi berpuasa, harus menyeberang sungai yang arus deras serta bebatuan besar. Entah mungkin karena faktor sedang berpuasa ditambah panas yang begitu terik, Petrus sempat tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Kemudian ia mau tidak mau melanjutkan perjalanan seorang diri, tentu saja keadaan seperti ini tidak diharapkannya karena segala hal mungkin saja terjadi di tengah hutan seperti itu. Lelah berjalan akhirnya Petrus memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat. Dalam keadaan yang seperti itu, sambil mengeluarkan air mata Petrus menengadah dan memanjatkan doa kepada sang pencipta. "Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku agar aku bisa menyusul dan berjumpa dengan kawan-kawanku. Ya Allah jikapun kekuatanku sudah tidak ada lagi, hamba mohon sakitkanlah mereka dijalan," begitu isi doa Petrus.

Masih dalam keadaan lelah dan berpuasa, Petrus kembali melanjutkan perjalanan untuk dapat menyusul rombongan. Tiba-tiba dari kejauhan dia melihat ada pergerakan, dia memberanikan diri untuk merangsek masuk secara perlahan dan sangat hati-hati untuk memastikan ini kawan atau musuh. Ketika jarak sudah mencapai lebih kurang 200 meter, Petrus melihat ada seseorang yang membentangkan ayunan yang terbuat dari kain, dan dia merasa lega karena ini merupakan pertanda bahwa itu adalah rombongannya tadi.

Ketika sudah bergabung dalam rombongan, Fauzan mengatakan kepada Petrus "Bang, cari tempat bang. Kita malam ini beristirahat dan nginap disini". Kemudian Petrus bertanya kembali kepada Fauzan "kenapa kita beristirahat disini? kan masih jam dua?". Kebiasaannya dalam puasa pasukan akan bergerak terus dan baru beristirahat sekitar jam empat sore.

Fauzan Azima menjawab "Mualem sama Cut Manyak sakit". Tanpa sadar, secara lirih Petrus berujar "Alhamdulillah, secepat ini engkau ijabah doaku ya Allah,". Saat itu Fauzan mungkin saja mendengarkan, mungkin sudah menjadi tipikalnya yang sedikit bicara untuk memilih diam.

Keesokan harinya, perjalanan kembali dilanjutkan. Karena kondisi sebagian pasukan GAM yang kurang fit, akhirnya perjalanan menjadi sedikit lebih lambat. Dalam perjalanan tersebut rombongan berjumpa dengan beberapa pasukan GAM lain dan turut bergabung. Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, sampailah pasukan GAM dan Mualem di daerah bukit Rebol.

Hingga suatu hari, salah seorang pasukan ditangkap aparat keamanan. Lalu kemudian bocorlah rahasia bahwa Mualem bersama pasukannya berada di kawasan bukit Rebol. Seminggu berselang terjadilah penyerangan di bukit Rebol, posisinya saat itu pas di puncak bukit. Pasukan TNI menembaki menggunakan meriam dan mortir dari dua arah, jauhnya pun sudah dekat sekali dengan posisi pasukan GAM.

Ternyata posisi persembunyian pasukan GAM dan Mualem saat itu sudah diketahui. Dalam kondisi seperti ini, pasukan GAM kembali bergerak ke daerah Sawang. Kemudian dalam perjalanan itu, pasukan GAM kembali dibombardir menggunakan pesawat Bronco dan pesawat F-16. Ketika serangan mulai mereda, Mualem bersama pasukan dituntun keluar daerah tersebut. Fauzan Azima meminta bantuan Syaiful Cage untuk menyelamatkan mualem dan mengungsikan ke wilayah yang lebih aman.

Adi Maros

Komentar

Loading...