Unduh Aplikasi

Ke Pusara Korban Konflik, Ketua DPRA: Tak Ingin Aceh Kembali ke Masa Silam

Ke Pusara Korban Konflik, Ketua DPRA: Tak Ingin Aceh Kembali ke Masa Silam
Ketua DPRA Tgk Muharuddin saat berziarah ke kuburan massal korban konflik di Buket Seuntang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Foto: Ist

BANDA ACEH – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tgk. Muharuddin mengatakan perang Aceh selama 30 tahun, menelan banyak korban jiwa, harta benda dan melunturkan nilai adat istiadat. Untuk itu, seluruh elemen masyarakat harus menjaga perdamaian Aceh yang telah terbina selama satu dekade itu.

“Konflik juga mengubah tatanan sosial dan ekonomi masyarakat sehingga tentu kita tidak ingin kembali ke masa kelam yang pernah dialami masyarakat Aceh,” kata Tgk. Muharuddin, disela doa dan zikir bersama saat ziarah ke kuburan massal korban konflik Aceh di Buket Seuntang, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Minggu (7/10).

Muharuddin mengatakan masyarakat Aceh harus bersinergisitas dengan seluruh elemen, baik pemerintah, GAM, TNI-POLRI, dalam menjaga dan merawat perdamaian. Perdamaian yang telah terbina kata Muharuddin merupakan semangat baru bagi seluruh masyarakat yang harus diisi dengan kreativitas, ide-ide cerdas, serta konsep cemerlang.

"Sehingga kita turut berkontribusi membangun dan membawa Aceh ke arah yang lebih baik, makmur, sejahtera dan bemartabat,” ungkap Caleg DPR-RI Dapil Aceh II nomor urut 2 Partai NasDem ini.

Terkait keberadaan kuburan massal korban konflik Buket Seuntang, Muharuddin berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melakukan pemugaran serta membangun sejumlah fasilitas pendukung seperti kamar mandi dan musala serta akses jalan. Keberadaan fasilitas tersebut akan memudahkan masyarakat saat berziarah. Kuburan korban konflik Buket Seuntang juga dinilai layak menjadi situs sejarah.

“Sejarah tidak boleh kita tutup-tutupi karena itu nyata dan pernah dialami masyarakat Aceh. Pemugaran kuburan massal bukan untuk mengangkat cerita masa lalu konflik Aceh, tapi menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar menjaga damai Aceh,” ungkap Tgk. Muharuddin.

Untuk mewujudkan wacana tersebut, pemerintah kabupaten Aceh Utara kata Muharuddin hendaknya berkordinasi dengan TNI/Polri.

"Agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sinergisitas perlu dilakukan, agar tidak ada kendala-kendala dalam menjadikan kuburan massal Buket Seuntang ini sebagai situs sejarah Aceh,” tutupnya.

 

Komentar

Loading...