Unduh Aplikasi

Kata Pengamat Politik Terkait Bergabungnya PNA ke KAB

Kata Pengamat Politik Terkait Bergabungnya PNA ke KAB
Aryos Nivada. Foto: Ist

BANDA ACEH - Beberapa partai lokal dan partai nasional di Aceh kembali menyepakati untuk mendaur ulang Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2019-2024.

KAB periode 2019-2024 ini terdiri dari tujuh partai yaitu Partai Aceh dengan 18 kursi, Gerindra 8 kursi, PKS 6 kursi, PAN 6 kursi, PNA 6 kursi, SIRA 1 kursi dan PKPI 1 kursi. KAB sebelumnya juga sudah terbentuk pada periode 2014-2019, di dalamnya ada Partai Aceh, Demokrat, PAN, Gerindra. Kemudian, Partai Golkar, PKS, PPP, serta Partai Nasdem.

KAB periode sebelumnya menguasai 74 kursi dari total 81 kursi di DPRA. Untuk sekarang, Nasdem, PPP dan Demokrat belum mengambil sikap apakah masuk kembali ke KAB jilid II atau tidak. Menariknya di KAB jilid II ini adalah dengan bergabungnya PNA. Diketahui, PA dan PNA merupakan partai lokal yang selama ini sering berbeda arah politik, bahkan sangat sulit untuk menyatukan dua partai yang pengurusnya didominasi oleh para mantan kombatan.

Bahkan pada Pilkada lalu, PNA dan Demokrat sepakat untuk mengusung Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah dan terpilih sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.

Baca: Gabungan Parlok dan Parnas Bentuk Kembali Koalisi Aceh Bermartabat

Pengamat politik Aceh, Aryos Nivada menilai masuknya PNA ke dalam KAB jilid II karena sudah berbeda arah politik dengan partai pengusung dan diperkuat lagi jalinan komunikasi yang tidak mampu sepenuhnya mengakomondiri pada dimensi kepentingannya.

"Mungkin itu menjadi penguat atau latarbelakang kenapa PNA mau masuk ke KAB, dan ini sangat menarik," kata Aryos Nivada.

Ia juga menilai setelah terbentuknya KAB jilid II ini, tidak tertutup kemungkinan lahirnya koaliasi baru atau tandingan, bahkan tidak tertutup kemungkinan parpol-parpol yang tergabung dalam KAB juga keluar.

"Semuanya bisa saja terjadi. Karena bicara kesamaan ideologi, tentu tidak akan sama dalam KAB itu, yang kuat adalah dimensi kepentingan," ujarnya.

Menurutnya ada berbagai kepentingan sehingga parpol mau mengambil sikap masuk dalam KAB, baik itu kepentingan ekonomi atau kepentingan posisi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

"Kalau penilaian saya tergantung dimensi kepentingannya, semakin kuat dimensi kepentingan, maka semakin kuat juga ikatan di dalam KAB itu," jelasnya.

Selain itu, kata Aryos, tidak tertutup kemungkinan juga kalau KAB jilid II ini hanya bersifat sementara. Karena kalau dikatakan ini koalisis permanen, maka semuanya bergantung pada dimensi kepentingan.

"Semuanya bisa saja terjadi, tergantung kepentinganya apa," kata Aryos.

Komentar

Loading...