Unduh Aplikasi

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Masih Tinggi di Aceh

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Masih Tinggi di Aceh
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tergolong tinggi di Aceh. Meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun ke tahun menimbulkan keresahan tersendiri bagi masyarakat.

“Di Aceh yang meliputi wilayah Lhokseumawe, Aceh Utara dan Bener Meriah, kami mencatat sejak Januari sampai November 2018, ada 92 perempuan mengalami kekerasan, 17 kasus kekerasan seksual, kekerasan seksual terhadap anak perempuan masih posisi paling tinggi kasusnya, menunjukkan bahwa perlindunganterhadap anak masih belum maksimal dilakukan," kata Direktur LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Aceh, Roslina Rasyid kepada AJNN, Kamis (29/11).

Untuk itu, kata Roslina, sejumlah organisasi dan lembaga bantuan hukum (LBH) mendesak dan mendorong pemerintah agar segera disahkannya Rancangan Undang-undang (RUU) penghapusan kekerasan seksual yang saat ini sudah masuk dalam Prolegnas Prioritas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

“Kami disini membangun dukungan dari pemerintah, APH, tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh masyarakat untuk mendukung dan melindungi korban kekerasan seksual, termasuk keluarga dan saksi," ujarnya.

Selain itu, juga mendorong partisipasi aktif masyarakat, komunitas dan pemerintah daerah dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) untuk Penghapusan Kekerasan Seksual.

"Perlu membangun kesadaran kritis masyarakat untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak, dari tindak kekerasan, khususnya kekerasan seksual," jelasnya.

Dari hasil data Komnas Perempuan pada 2017, mencatat jumlah kekerasan terhadap perempuan sebesar 348.446 kasus. Jumlah ini melonjak jauh dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 259.150.

Berdasarkan data-data tersebut, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol selama ini masih didominasi kekerasan dalam rumah tangga dan relasi personal yaitu sebanyak 71 persen, sementara itu kekerasan seksual mencapai 76 persen, angka yang semakin mengkhawatirkan dan terus menerus terjadi diberbagai wilayah di Indonesia.

Bahkan, kata Roslina, pelaku kekerasan merupakan orang-orang terdekat korban, orang-orang yang seharusnya memberi perlindungan terhadap korban berubah menjadi pelaku kekerasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah dan lingkungan keluarga belum menjadi tempat yang aman dan terlindungi bagi perempuan dan anak dari segala bentuk kekerasan utamanya kekerasan seksual.

Tak hanya itu, korban kekerasan seksual selama ini juga sulit mendapat akses layanan sesuai kebutuhan korban, sulit memproses kasus kekerasas yang dialami karena terkendala dengan pembuktian, terutama korban disabilitas banyak kasus tidak bisa melanjutkan proses kasusnya.

“Merujuk ke RUU Kekerasan Seksual yang memuat mulai dari pencegahan, penanganan dan pemulihan, hal ini sangat penting untuk segera disahkan oleh DPR RI, karena UU ini sangat dibutuhkan untuk mengakomodir kebutuhan korban. Apalagi selama ini tidak ada payung hukum yang khusus melindungi korban,” kata Roslina.

HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...