Insentif PKB - BPKA 2019
Unduh Aplikasi

Kalak BPBA: Penegakan Hukum dapat Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Kalak BPBA: Penegakan Hukum dapat Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Kepala BPBA, Teuku Ahmad Dadek. Foto: BPBA

ACEH BARAT - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek mengatakan penegakan hukum adalah upaya terpenting dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Menurut mantan Bappeda Aceh Barat itu, penegakan hukum yang dilakukan Kepolisian akan menberikan efek jera bagi pemilik lahan.

"Penegakan hukum sangat penting dalam pengendalian karhutla. Saat berurusan dengan hukum pemilik lahan akan jera. Karena terus dipanggil polisi untuk diperiksa," kata Teuku Ahmad Dadek, saat membuka Workshop Pengendalian Kebakaran Hutan fan lahan, Rabu (13/3) malam di Aceh Barat.

Selain dari sisi penegakan hukum, kata Dadek, hal lain yang terus dilakukan oleh BPBA adalah melakukan sosialisasi terhadap pencegahan kebakaran hutan baik melalui media elektronik (radio), dan media massa lainnya, serta pemasangan rambu bahaya, dan modul penanggulangan kedaruratan kepada petugas pengendali karhutla.

Dalam kesempatan tersebut, vokalis group Band Putro Ijo ini mengatakan sulitnya mengendalikan api saat kebakaran dikarenakan para petugas pemadam kebakaran yang disiapkan selama ini hanya untuk pemandaman kebakaran dipemukiman.

"Untuk bahaya karhutla merupakan ranah dari dinas kehutanan yang kewenangannya ada di provinsi," ujar Dadek.

Dadek juga mengungkapkan, kejadian kebakaran hutan dan lahan paling tertinggi terjadi diwilayah Barat-Selatan Aceh dengan jenis kebakaran lahan gambut, dan disusul oleh Aceh Tengah dengan rawan kebakaran merupakan hutan pinus, serta wilayah timur, Utara Aceh.

Ia menjelaskan karhutla yang terjadi di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya, selama ini menjadi sorotan internasional. Pasalnya setiap terjadi karhutla di Indonesia, negara itu menjadi dikenal sebagai negara pengimpor asap terutama untuk negara tetangga.

"Memang benar kata Presiden Jokowi angka Karhutla selama tiga tahun terakhir ini terjadi penurunan, namun kami tetap harus waspada, apalagi karhutla disorot oleh dunia internasional, bahkan dikenal sebagai pengekspor asap," ujarnya.

Lembaga penanggulangan bencana, kata Dadek, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 3 miliar untuk pembelian mesin pompa air sebanyak sepuluh unit, yang nantinya akan dipinjamkan bagi kabupaten/kota yang terjadi karhutla.

"Untuk kasus karhutla di Aceh, saat ini memasuki Januari hingga Maret merupakan fase kesiapsiagaan, sedangkan untuk kasus kebakaran akan tinggi memasuki April hingga Agustus mendatang," ungkapnya.

Selain itu, BPBA bersama BPBD terus bersinergi dengan pihak terkait seperti TNI/Polri dan dinas kehutanan guna mencegah terjadinya karhutla di Aceh.

Khanduri Laot

Komentar

Loading...