Kacang Panjang Salah Satu Komuditas Penyumbang Inflasi Kota Lhokseumawe

Kacang Panjang Salah Satu Komuditas Penyumbang Inflasi Kota Lhokseumawe
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE - Sebagai salah satu upaya Bank Indonesia (BI) dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang salah satunya dipengaruhi oleh tingkat inflasi dengan banyaknya tingkat pengangguran serta rendahnya produktivitas barang dan jasa.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Lhokseumawe mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Lhokseumawe bulan November 2017 mencatat inflasi sebesar 0,31 persen atau lebih tinggi dibandingkan tekanan inflasi pada bulan lalu yang tercatat 0,10 persen.

Infalasi IHK terutama disumbangkan oleh komponen inti dan bahan makanan bergejolak (volatile foods). Kelompok volatile foods pada bulan November tercatat mengalami inflasi sebesar 0,94 persen dibanding pada bulan sebelumnya sebesar 0,1 persen.

“Untuk November kelompok bahan makanan volatile foods inflasi disumbangkan oleh komoditas beras, ikan gembung, kacang panjang dan ikan tongkol,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yufrizal, Selasa (5/12).

Yusrizal menambahkan, peningkatan harga komoditas tersebut dipengaruhi oleh faktor musim penghujan yang menyebabkan berkurangnya pasokan komuditas laut serta masih naiknya harga Gabah Kering Giling (GKG) yang mempengaruhi harga komuditas beras secara tahunan.

Sementara itu sebut Yusrizal, penyaluran kredit di wilayah kerja KpwBI Lhokseumawe hingga Oktober 2017 mengalami pertumbuhan besar 9,92 persen, dari Rp 13,35 triliun menjadi Rp 15,29 triliun.

“Bila dibandingkan dengan priode Desember 2016, kredit tumbuh sebesar 12,33 persen,” ujarnya.

Ekspansi ini didukung oleh kualitas kredit yang terpantau aman dengan NPL di level 2,38 persen, atau dibawah ambang yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yaitu 5 persen. Untuk Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, penyaluran kredit Oktober 2017 tumbuh positif pada angka 6,89 persen, dari sebelumnya Rp 5,35 triliun menjadi Rp 5,91 triliun dengan NPL sebesar 2,56 persen.

“Jika dilihat dari sisi perbangkan sendiri, kinerja intermediasi perbankkan masih mengalami pertumbuhan baik, bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” imbuhnya.

Yusrizal mengatakan, adapun kondisi dari pihak ketiga (DPK) di wilayah kerja KpwBI Lhokseumawe, untuk bulan Oktober 2017 mengalami pertumbuhan sebesar 5,53 persen, dari Rp 11,14 triliun menjadi Rp 11,76 triliun. Kondisi DKP secara tahunan mengalami penurunan bila dibandingkan pada bulan September 2017 yang tumbuh sebesar 6,99 persen.

Hal tersebut katanya tercermin dari deposito yang masih tumbuh negatif sebesar 1,58 persen, dari Rp 2,335 triliun menjadi Rp 2,298 triliun. Giro mengalami penurunan sebesar 2,03 persen, dari Rp 2,216 triliun menjadi Rp 2,171 triliun. Meskipun demikian tabungan mengalami peningkatan sebesar 10,60 persen, dari Rp 6,596 triliun menjadi Rp 7,295 triliun.

“Kondisi ini di dorong antara lain terlambatnya pengesahan APBK beberapa daerah di tahun 2017, realisasi APBK di triwulan IV 2017 kita harapkan dapat meningkatkan dana pihak ketiga yang diperoleh perbankan, seiring penurunan suku bunga acuan BI diharapkan dapat mengimbangi ruang intermediasi perbankan di saat tingginya kebutuhan belanja pemerintah untuk proyek fisik daerah,” harapnya.

Yufrizal menegaskan, kedepan inflasi akan tetap diarahkan berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4±1 persen. Sehubungan dengan hal tersebut KpwBI Lhokseumawe, akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pengendalian inflasi dimaksud.

Salah satunya dengan melakukan kordinasi antara Pemko Lhokseumawe dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah resiko terkait penyesuain administered prices dan resiko kenaikan harga volatile foods dan komoditas inti.

“Kondisi inflasi kedepan diperkirakan meningkat mengingat adanya penyambutan Maulid Nabi,” ungkapnya.

Selain itu perkembangan kinerja perbankan diharapkan untuk terus ditingkatkan menjelang akhir tahun 2017, serta potensi perekonomian dengan berlakunya kawasan ekonomi khusus (KEK) Lhokseumawe dan perkembangan ekonomi lainya.

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...