Unduh Aplikasi

Jejak Industri Abad Pertengahan di Kerajaan Aceh

Jejak Industri Abad Pertengahan di Kerajaan Aceh
Ilustrasi. Foto: Net

Oleh: : Ambo Asse Ajis

Adalah hal yang sangat menarik, apabila kita menelusuri keberadaan jejak Industri yang pernah berkembang di Kerajaan Aceh, khususnya era abad pertengahan (abad 16-17 Masehi). Pertanyaan umum yang sering diajukan orang awam,  apakah Kerajaan Aceh memiliki industri teknologi yang setara dengan Eropa pada abad pertengahan? Apakah teknologi itu di bangun seperti design industri yang modern? Lalu jika ada, kemana jejaknya saat ini?

Tiga pertanyaan dasar di atas sesungguhnya memiliki fakta historis. Pertanyaan pertama, apakah Aceh memiliki industri teknologi yang setara dengan eropa pada abad pertengahan?

Jawab: sejarah mencatat, pada era awal berdirinya kerajaan Aceh dibawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1523 Masehi), teknologi telah ada dan berkembang dalam konteks kebutuhan masyarakat di wilayah Achen saat itu (Pra kerajaan Aceh atau sebelum maklumat pendirian kerajaan Aceh) . Teknologi yang dimaksud adalah kemampuan mengolah logam (besi, emas, perak, tembaga, perunggu, dll) dalam carar-cara kerja industri metalurgi (logam) yang juga sama dengan Barat ketika itu. Kemampuan ahli metalurgi (pande) memproduksi berbagai benda-benda  besi untuk keperluan warga, misalnya benda kebutuhan rumah tangga  (pahat, parang, timbangan, dll),  benda kebutuhan militer (pedang, perisai, baju dan berbagai kebutuhan lainnya) adalah produk rumahan yang dikendalikan insyur-insinyur lokal.

Para Era Ali Mughayat Syah, kebutuhan memenuhi sarana perdagangandi kelola langsung kerajaan dalam wujud  industri kemaritiman yang  memproduksi perahu, khusus diperuntukan untuk keperluan perdagangan dan militer ketika itu. Bukti langsung dikemukakan C.R.Boxer (1950) dimana ia menulis bahwa ekspor Acehterutama lada, selain diangkut saudagar Gujarat maupun pedagang asing lainnya , Saudagar Aceh turut aktif melakukan perdaganganya  sendiri sampai berniaga ke laut merah (Mesir).

Kemampuan teknologi pelayaran Aceh adalah faktor yang menjadi sarana diplomasi perdagangannya karena didukung kemajuan industri kemaritiman (memproduksi kapal dagang), tidak lain menjadi sebab-sebab semakin ramainya pelabuhan Aceh didatangi pedagang dari Malabar (India), Arab dan Mesir di kemudian hari. 

Demikian juga pada era kepemimpinan Sultan Alauddin Ri’Ayat Syah atau Al-Kahar (1537-1571 Masehi), perdagangan  dan kemaritiman semakin berkembang hingga mendatangkan banyak pedagang maupun pekerja asing untuk tinggal di Achen, dan mereka membentuk perkampungan-perkampungan sesuai dengan asal bangsanya.

Pertanyaan kedua, apakah teknologi abad pertengahan di kerajaan Aceh di bangun seperti design industri yang modern? Jawab, iya. Khususnya mengenai industri kemarimaman, kita tahu bahwa ada divisi kemaritiman yang khusus bekerja menangani kebutuhan dan seluk beluk kemaritiman; wilayah ini termasuk pelabuhan dan atauran main yang mengikat interaksi manusia didalamnya.

Dalam catatan sejarah, jabatan kerajaan yang mengatur segala hal ikhwalmitu, ditangani oleh Syahbandar. Namun dalam prakteknya, umum diketahui bahwa Syahbandar juga bekerjasama dengan dan orang-orang kaya menjalankan amanah Sultan Aceh mengelola bidang tersebut.

Terkait dengan kebutuhan militer dan rumah tangga, penjelasan yang sangat kuat bahwa kehadiran orang-orang asing dari berbagai belahan dunia khususnya negeri-negeri yang menjadi kontak dagang langsung dengan Kerajaan  Aceh, datang dengan pengetahuan teknologinya. Tidak sedikit catatan sejarah memperlihatkan bahwa Kerajaan Aceh memanfaatkan orang-orang yang datang  dan memiliki kemampuan teknik tinggi, dipekerjakan dengan baik.

Sebagai contoh, pada masa Sultan Alauddin Ri’Ayat Syah atau Al-Kahar (1537-1571 Masehi) memutuskan memindahkan pusat adminsitrasi kerajaan dari lokasi bernama Achen (Kawasan Kecamatan Kutaraja dan Meuraksa saat ini), beliau meminta bantua berbagai suku yang ada membantu membangu istana.

Di masa sultan ini juga, telah  disebutkan bergabungnya seorang teknisi militer berkebangsaan Portugis, seorang muallaf dan berganti nama menjadi Khoja Zainal Abidin. Melalui seorang muallaf inilah Kerajaan Aceh mampu memaksimalkan kualitas  kapal-kapal Kerajaan Aceh menjadi modern sesuai standar dunia saat itu.

Bahkan menurut catatan Muhammad Said (1981), dapat dikatakan hampir semua pertukangan dan kerajinan yang dikerjakan orang-orang diluar negeri, sudah dapat dibuat sendiri di Aceh masa Al-Kahhar ini. Lebih khusus lagi kemajuan industri meriam dan sanjata di Aceh, meningkat dan terkenal di nusantara dan banyak pesanan dari negari lain diantaranya dari Demak dan Bantan (Banten) meminta peralatn militer produksi Kerajaan Aceh untuk dikirimkan ketempat mereka.

Pertanyaan ketiga, kemana jejak segala kemampuan teknologi Kerajaan Aceh tersebut saat ini? Jawab: jejak teknologi Kerajaan Aceh semakin sempurna dengan kedatangan teknisi militer dari Turki buah tangan diplomasi “lada si cupak” (1567) sebanyak 300 ahli sebagaimana sumber  yang berasal dari catatan Fernando Mendez Pinto (Portugis).   

Demikian juga berbagai peralatan sehari-hari, berbagai peninggalan berbentuk mata uang, perhiasan, dan lain sebagainya diproduksi dari satu pemerintahan sultan ke pemerintahan sultan yang lain. Dalam hal ini, diyakini telah terjadi proses pewarisan teknologi dari generasi ke generasi di sepanjang waktu.

Namun, harus dipahami bahwa kemajuan industri era Kesultanan Aceh baik itu terkait industri militer, industri alat rumah tangga maupun lainnya adalah langsung dikelola oleh kesultanan di bawah pengawasan pejabat khusus. Dan, ini yang signifikan membedakan cara kerja penanganan dan pengembangan industri dengan negara-negara barat dimana umumnya industri barat era abad pertengahan dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan swasta.

Berdasarkan kondisi yang demikian di atas maka tentu saja kita akan kesulitan menemukan adanya  dokumen nama atau grafik pertumbuhan industri, baik itu terkait militer, rumah tangga, perdagangan dan lain sebagainya di kesultanan Aceh. Tetapi ,jika cara pandangnya berdasar bukti-bukti materiil, maka tidak  dapat dipungkiri bahwa pada era Kerajaan Aceh, bangsa ini telah mengembangkan berbagai produk industri yang bukti-buktinya masih ada sampai hari, baik bukti itu berbentuk benda (materiil) ataupun berbentuk bukti catatan sejarah yang diriwayatkan dalam dan luar negeri.

Penulis adalah anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Aceh-Sumatera Utara, tinggal di Aceh Besar

 

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin
HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...