Unduh Aplikasi

Ini Ramalan Cendikiawan tentang Pemimpin Aceh, Lima Abad Lalu

Ini Ramalan Cendikiawan tentang Pemimpin Aceh, Lima Abad Lalu
Zakaria Saman alias Apa Karia

LHOKSEUMAWE - Pemilihan Kepala Daerah menjadi ajang semua pasangan calon menjanjikan kesejahteraan. Konon, pada 1440, salah seorang cendekiawan terkemuka Aceh meramalkan akan tiba masanya seorang pemimpin lahir dari pilihan hati rakyat.

Pemimpin itu tanpa embel-embel politik berlebihan. Tanpa janji muluk-muluk dan retorika apik, tanpa gaya mencolok dengan ajudan di sana-sini setiap kali mengunjungi kampung-kampung.

“Pemimpin itu bicara seadanya. Tak beretorika dengan bahasa ilmiah yang sesungguhnya kurang difahami dan dimengerti oleh rakyat,” kata Andi Masta, seorang seniman Lhokseumawe, Sabtu (11/2).

Tampaknya, kata Andi Masta, melihat enam pasangan calon Pilkada Aceh, sosok jenis ini ada pada diri Zakaria Saman alias Apa Karia. Tak ada kesan ilmiah di dalam semua pidatonya. Namun soal pengalaman, dia memiliki rekam jejak panjang. Apa Karia adalah bekas Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

Terlepas intrik berpolitik, cara-cara Apa Karia mendapatkan penggemar dan pendukung tidak bisa ditebak oleh siapapun. Bahasa tubuh yang disuarakannya, tegas, lugas dan tepat sasaran, sesuai dengan apa yang diinginkan warga Aceh.

Di sisi lain sebutnya, gaya kocak ala Apa itu bukan “tong kosong”. Semuanya diulas sesuai fakta. Karena trik komunikasi publik yang disajikan itu, bekas tokoh GAM ini lebih terasa di hati masyarakat.

Seharusnya, kata Andi, pemimpin harus berbicara dengan gaya rakyat. Mudah dipahami rakyat dan mudah untuk membuktikan janji-janjinya. Menurut Andi, pemimpin sederhana merupakan cikal bakal pemimpin mumpuni.

“Sekarang, tinggal menunggu akankah ramalan cendikiawan Aceh lima abad lalu terbukti di Pilkada ini, atau harus menunggu berabad-abad lagi?” kata Andi.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...