Unduh Aplikasi

HPS Pengadaan Peralatan Sepak Bola Terindikasi Mark Up

HPS Pengadaan Peralatan Sepak Bola Terindikasi Mark Up
Laman LPSE

BANDA ACEH - Pengadaan peralatan dan kelengkapan cabang olahraga sepak bola yang dilelang melalui laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Pemerintah Aceh diduga terindikasi mark up Harga Perkiraan Sendiri (HPS).

Berdasarkan data yang diperoleh AJNN, pengadaan perlengkapan sepak bola tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (ABPA) 2019 dengan pagu Rp 5 miliar dan HPS sebesar Rp 4,9 miliar.

Sumber AJNN yang meminta identitasnya disembunyikan, menyebutkan HPS senilai Rp 4,9 miliar itu terlalu tinggi bahkan tidak masuk akal jika dihitung dengan spesifikasi yang ada.

Ada beberapa item barang yang masuk dalam pengadaan, meliputi Bola kaki 2000 buah, kostum sepak bola merek 1000 buah, rompi latihan mereka 500 lusin, kaos kaki 202 pasang, deker pelindung kaki 200 pasang, sepatu bola 970 pasang, semua jenis barang itu merek Adidas, kecuali jaring gawang yang mereknya GTO dengan jumlah 200 set.

"Barang-barang tersebut kemudian kita cari informasi harga di lapangan, ternyata harga totalnya hanya Rp 2,3 miliar sudah termasuk pajak dan keuntungan. Artinya ada sekitar Rp 2,6 miliar indikasi mark up-nya. Barang-barang yang kita tanya itu kualitas bagus dan merknya sesuai dengan spesifikasi," katanya sembari memperlihatkan dokumen hasil penelusuran harga di lapangan.

Harga perhitungan berdasarkan hasil survei lapangan

Sementara itu, PPTK di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, Fauzan kepada AJNN membantah dugaan mark up HPS untuk pengadaan peralatan dan kelengkapan cabang olahraga sepak bola itu.

"Tidak ada mark up, itu harga sesuai, dan barang yang kita adakan itu asli standar indonesia, bola itu memang standar untuk event. Setiap pengaadaan harus mempunyai kualitas untuk menghasilkan atlet yang berkualitas juga. Jangan sampai saat dia (atlet) bermain di luar, bola asli saja dia tidak tahu, kalau bola yang kita buat pengadakan ini langsung dengan pabrik" katanya.

Kata dia, yang jelas pengadaan itu dilakukan untuk program pemerintah, mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olahraga, di saat pengadaannya sederhana, dua kali bola itu ditendang sudah sudah rusak, dan nanti efek dari kualitas barang itu larinya ke Dispora jugakesini juga.

"Kami berprinsip tidak bisa mengadakan pengadaan hanya sekedar pengadaan, karena yang kita inginkan dari pengadaan ini akan muncul bibit-bibit dari masyarakat untuk pemain bola profesional," katanya.

Fauzan juga memperlihatkan HPS yang mereka susun, dimana harga untuk satu bola buah mencapai Rp 500 ribu, dan kostum sebesar Rp 1000.000 per set.

Fauzan juga mempertanyakan sumber AJNN yang memberikan data dugaan mark up tersebut agar lebih jelas.

"Ini memang jumlah besar, namun ketika dikonfimasi dengan harga Rp 2,9 miliar itu berarti yang laporanya, yang lapor itu siapa. Saya perlu si pelapor, kalau sudah jelas si pelapor baru saya beri penjelasan dengan jelas, bawa pelapor, polisi dan kamu, jadi face to face. Karena jika tidak si pelapor itu bebas, sementara kami berurusan dangan hukum," katanya.

Tak hanya itu, Fauzan juga meminta kartu identitas wartawan AJNN berupa KTP, Kartu Pers dan kartu UKW untuk difotokopi dan disimpan.

"Ini begini, yang ambil laporan (wawancara) itu kan anda, jadi bila mana pemberitaannya tidak sesuai dengan fakta, kami tahu siapa yang kami cari," katanya.

Komentar

Loading...