Topik

Hasrat Hajril Terganjal Uang Sekolah

·
Hasrat Hajril Terganjal Uang Sekolah
Foto: babunnajah.sch.id
TAK mudah menjadi Hajril Janni. Pelajar kelas dua madrasah aliyah di Pesantren Babun Najah, Banda Aceh, ini didera banyak masalah saat anak-anak seusianya asyik menikmati indahnya masa muda di bangku sekolahan. Mikial--sapaan Hajril Janni, anak pertama dari pasangan Suriasi dan Sofian Ahmad, itu menghabiskan hari-hari di rumah pamannya, di Saree, Aceh Besar.

Pengurus pesantren itu terpaksa merumahkan Mikial karena orang tuanya tak kunjung membayar tunggakan iuran sekolah sebesar Rp 6 juta. 10 bulan dia menunggak. Orang tuanya tak memberikan kepastian. Pihak sekolah mengaku tak bisa lebih lama memberikan toleransi kepada Mikial. Apalagi, anak itu masih memiliki keluarga. Prioritas beasiswa di pesantren itu hanya untuk anak-anak yatim-piatu.

Orang tua Mikial bercerai. Sofyan--cacat karena kecelakaan--hanya bekerja sebagai sopir becak barang. Dia mengalami tekanan mental yang membuat ibu Mikial pergi dari rumah. Selama berada dalam asrama, Mikial hanya mengandalkan uang kiriman dari ibunya. “Sekali-sekali saya dikirim Rp 100 ribu,” kata Mikial. Suriasi kini menikah dengan pria lain. Dia menetap di Tangse, salah satu kacamatan di Pidie.

Pada jam istirahat, saat teman-temannya menikmati uang saku dari orang tua mereka, Mikial lebih banyak duduk di kelas sambil membaca ulang pelajaran atau kembali ke asrama, yang berjarak tak jauh dari kelas. Guru-guru di madrasah itu tahu siapa Mikial. Tak jarang mereka juga memberikan sedikit uang untuk jajan Mikial. Namun Mikial lebih memilih untuk menyimpan uang itu ketimbang membelanjakannya. Dia juga sering mendapatkan bantuan baju bekas dari teman-temannya.

Dia sama sekali tak mempermasalahkan kesulitan ini. Mikial bukan tipe anak manja. Untuk tambahan uang, Mikial mengambil upah mencuci baju dari beberapa rekannya. Dari mereka, Mikial mendapatkan uang Rp 5.000 atau Rp 10 ribu. Uang ini juga disimpannya. Dia berharap, uang yang dikumpulkannya itu bisa digunakan untuk membayar iuran pendidikan.

Dasar anak berbakat, semua tekanan dan kerja sampingan itu tak membuat prestasinya menurun. Kepada AJNN, dia hanya mengungkapkan keinginan untuk dapat menyelesaikan masa-masa akhir pendidikannya. "Setahun lagi." Jika tak segera melunasi seluruh tunggakan, Mikial tak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas. Dan masa depannya, akan semakin buram. Tekanan ini yang mungkin sulit untuk ditahankan Mikial.

Komentar

Loading...