Unduh Aplikasi

Pertarungan Hasanuddin di Grup Neraka

Pertarungan Hasanuddin di Grup Neraka
Ir Hasanuddin

BANDA ACEH - LANTUNAN doa selepas salat magrib lamat-lamat terdengar. Sebuah sport utility vehicle berjalan membelah gelap yang muda. Speedometer di kendaraan pabrikan Jepang itu menunjuk angka 70 kilometer per jam. Sopirnya, Hasanuddin, menjalankan kendaraan itu dengan sangat tenang. Matanya awas mengendalikan kendaraan yang menjauh dari pusat kota Banda Aceh menuju kantor Generasi Anti Narkoba Nasional (GANN) Aceh Besar, di kawasan Lampeuneurut.

“Ada rapat penting tentang rencana organisasi memerangi peredaran narkoba yang semakin masif, terutama di Aceh Besar,” kata Hasanuddin, beberapa waktu lalu. “Setelah ini ada rapat dengan calon pemilih di Banda Aceh.”

Hasanuddin adalah salah satu kandidat anggota legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Dalam lima bulan terakhir, angka petunjuk jarak tempuh CRV berkelir hitam itu melonjak tajam. Maklum, ini adalah kendaraan yang setia mengantarkannya menjalani aktivitas sehari-hari. Terutama mengunjungi calon pemilih di berbagai daerah di Aceh Besar, Banda Aceh, dan Sabang, kabupaten dan kota yang menjadi daerah pemilihannya.

“Mencalonkan diri sebagai anggota legislatif memang menguras energi, emosi, dan tabungan,” kata Hasanuddin sambil tertawa. Menurutnya, politik adalah salah satu cara melanjutkan pengabdian. “Saya orang yang menyukai tantangan. Saya telah mencapai puncak karier sebagai abdi negara. Dan kalau masyarakat memberikan kesempatan, saya akan melanjutkan pengabdian dari gedung Parlemen Aceh.”

Hasanuddin adalah anak Gampong Beurawe. Dia lahir di sana 2 Juni 1960. Ayahnya, Haji Ishak, adalah seorang tokoh masyarakat di Gampong Batoh. Sedangkan sang ibu, Hajjah Chatijah berasal dari Beurawe. Masa kecil dan remaja Hasanuddin dilewati di Banda Aceh. Memulai pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Latihan, lantas masuk ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Banda Aceh.

Lulus dari sekolah itu, dia masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Banda Aceh. Dan meneruskan pendidikan di Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala. Dia juga tercatat sebagai lulusan pascasarjana Fakultas Ekonomi Unsyiah. "Petualangannya" dimulai saat dia lulus sebagai pegawai negeri sipil, pada 90-an di Kementerian Pekerjaan Umum. Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, adalah tempat pengabdian pertamanya.

Hasanuddin bersama isti, Nurhayati. Foto: ist
Hasanuddin bersana Nurhayati. Foto: ist

Setelah beberapa tahun, dia ditunjuk sebagai Kepala Seksi Bina Marga di dinas yang sama. “Ini adalah pengalaman yang berharga. Berkeluarga dan bekerja di tempat yang asing, jauh dari keluarga, adalah sebuah tantangan yang saya dan istri saya rasakan. Tapi kami bukan tipe orang yang mudah menyerah,” kata Hasanuddin.

Meninggalkan keluarga dan teman-teman bukan hal mudah. Teman-teman Hasanuddin, terutama di SMAN 3, seperti Razuardi Essex (pelaksana tugas Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang), Iwan Patria, Chaidir, Syamsul Bahri, sempat mempertanyakan pilihan tempat kerja. Apalagi Hasanuddin tak pernah lama meninggalkan Banda Aceh.

Namun Hasanuddin meyakinkan mereka bahwa sepanjang niat dan tujuannya baik, di mana pun bekerja, akan mendatangkan berkah. Kebetulan pula istrinya, Nurhayati--istrinya juga lulusan SMAN 3 Banda Aceh--juga lulus sebagai dosen kopertis dan dititip di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nasional di Banjarmasin. Ini adalah masa bulan madu yang panjang buat keduanya.

Tiga tahun mereka menetap di Amuntai, Hasanuddin dan Nurhayati dikaruniai putra pertama: Aulia Agung Maulana. Selang tiga tahun kemudian, Gebri, putra kedua mereka, lahir.

Hasanuddin saat meninjau pembangunan Fly Over

Pada 2000, Hasanuddin kembali ke Banda Aceh. Dia menjabat sebagai Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan Dinas Prasarana Wilayah Aceh. Banyak pencapaian yang dilakukan Hasanuddin selama bertugas. Satu di antaranya adalah memprakarsai pembangunan gedung sekolah antikorupsi. Saat menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Telematika Aceh, Hasanuddin bekerja cepat menuntaskan pekerjaannya, satu di antaranya adalah urusan pembebasan lahan pembangunan Bandara Rembele.

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah 2017, sejumlah kepala daerah petahana harus menjalankan cuti untuk melaksanakan kampanye. Gubernur Aceh Zaini Abdullah lantas menunjuk Hasanuddin sebagai pelaksana tugas Wali Kota Banda Aceh untuk menggantikan Illiza Sa’aduddin Djamal yang saat itu maju kembali sebagai calon wali kota, sementara waktu.

Meski hanya berstatus wali kota pengganti, sepanjang 28 Oktober 2016 hingga 11 Februari 2017, Hasanuddin membuat terobosan penting dalam pemerintahan. Persoalan pembebasan lahan pembangunan fly over Simpang Surabaya dan underpass Beurawe, yang berlarut-larut, tuntas di tangan Hasanuddin.

Dia juga mampu membangun komunikasi dengan seluruh anggota Dewan Perwakilan Kota Banda Aceh. Sinergi itu membuahkan Qanun Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) yang selesai dikerjakan dalam waktu satu pekan. Salah seorang anggota dewan menyebut Hasanuddin sebagai sosok yang terbuka dan sangat koopertif sehingga tak ada sekat yang sebelumnya kerap mengadang kerja sama antara eksekutif dan legislatif.

Sebelum meninggalkan Dinas Pengairan, Hasanuddin mewariskan “Qanun Irigasi”. Ini adalah aturan yang sangat diperlukan oleh Aceh dalam membangun dan mengembangkan sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. “Banyak tantangan, namun berkat kerja sama semua pihak, kita memiliki qanun penting ini. Di Indonesia, ini adalah peraturan daerah pertama yang mengatur tentang irigasi,” kata Hasanuddin.

Selama ini, Hasanuddin menilai terlalu lebar jarak antara eksekutif dan legislatif. Komunikasi yang tak harmonis kerap membuat dua lembaga ini berseteru. Muncul sekat di antara keduanya. Padahal mereka, kata dia, mengemban amanah yang sama: menyejahterakan rakyat Aceh.

“Terutama dalam pembahasan anggaran. Hambatan ini menyebabkan pembahasan anggaran sering kali mendek. Saya ingin berkontribusi untuk membantu menyusun program pembangunan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah,” tambah Hasanuddin.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ir. Hasanuddin MSi. (@ir_hasanuddin_msi) on

 

Karenanya, Hasanuddin memilih Partai Aceh sebagai saluran politiknya. Partai ini, kata Hasanuddin, merupakan partai orang aceh. Bukan hanya suku Aceh, melainkan semua orang yang tinggal dan menetap di Aceh. Partai yang ingin menyejahterakan rakyat Aceh berlandaskan syariat Islam.

“Partai Aceh juga merupakan partai terbuka yang terus memperbaiki diri untuk memperjuangkan butir-butir kesepakatan di Helsinki yang tertuang dalam UUPA (Undang-Undang Pemerintah Aceh),” kata Hasanuddin.

Tentu saja Hasanuddin masih harus membuktikan diri. Termasuk meraih suara yang mengantarkannya ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Dia harus bersaing dengan sejumlah politikus di Daerah Pemilihan 1: Banda Aceh-Aceh Besar-Sabang.

Ada nama-nama lawas dan anyar di daerah pemilihan ini, seperti politikus Partai Nanggroe Aceh Darwati A Gani, politikus Partai Nasdem Irwan Djohan, dan rekan separtainya, Saifuddin Yahya alias Pak Cek. Para pemilih di daerah ini pun dikenal lebih rasional. Lolos dari daerah pemilihan ini, sama seperti lolos dari grup neraka.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...