Harga Garam Tinggi, Usaha Pengasinan Ikan di Singkil Terancam Tutup

Harga Garam Tinggi, Usaha Pengasinan Ikan di Singkil Terancam Tutup
Pelaku usaha pengasinan ikan sedang melakukan penjemuran teri. Foto: Edi Putra

ACEH SINGKIL - Tingginya harga garam mulai berdampak pada pelaku usaha pengasinan ikan di Kabupaten Aceh Singkil. Pasalnya usaha pengasinan teri dan ikan asin di wilayah itu terancam gulung tikar.

Kemungkinan tutupnya usaha pengasinan ikan tersebut bukanlah isapan jempol belaka, pasalnya sejak harga garam melambung hingga mencapai tiga kali lipat dari harga normal, biaya produksi mereka mengalami peningkatan drastis, sedangkan harga jual hasil produksinya stagnan.

"Garam biasanya satu sak ukuran 50 kg harganya cuma Rp 85 ribu, dua bulan ini jadi Rp 260 ribu per sak, sementara harga jual teri kami tetap," kata Kasman pelaku usaha pengasinan ikan di Desa Gosong Telaga, Singkil Utara, Kamis (3/8).

Kasman mengatakan, untuk memproduksi satu ton ikan teri, mereka membutuhkan 3 sampai 4 sak garam ukuran 50 Kg. Jika biasanya biaya untuk garam hanya sebesar Rp 255-340 ribu, namun sejak garam naik mereka harus mengeluarkan modal untuk garam Rp 780 ribu hingga Rp 1 juta lebih.

"Kami sudah pernah sampaikan ke toke untuk menaikan harga pembelian ikan kami, tapi katanya sabar dulu, sekarang per kilo harga jual kami masih tetap, Rp 25 ribu," ungkap Kasman.

Para pelaku usaha pengasinan ikan di daerah itu berharap pemerintah segera mengatasi kelangkaan garam sehingga harganya kembali normal.

Pantauan AJNN, dari dua kelompok pelaku usaha pengasinan ikan di desa tersebut, hanya satu tempat perebusan yang beroperasi, selain sulit mendapatkan garam, saat ini ikan sebagai bahan baku utama yang dibeli dari nelayan juga sedang menurun.

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...