Unduh Aplikasi

Emilia, Akhirnya Bisa Sekolah di SMK Negeri 3 Banda Aceh

Emilia, Akhirnya Bisa Sekolah di SMK Negeri 3 Banda Aceh
Emilia bersama istri Plt Gubernur Aceh Dyah Erti Idawati, dan Kadis Pendidikan Aceh, Syaridin. Foto: AJNN.Net/Fauzul Husni

BANDA ACEH - Emilia Silvia Nabila, gadis yang berkebutuhan khusus itu akhinya bisa tersenyum bahagia. Pasalnya, ia akhirnya bisa menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kota Banda Aceh.

Emilia sangat beruntung, karena untuk masuk sekolah hari pertama, dirinya langsung diantar oleh istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati, dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, Senin (5/8).

Emilia sudah satu bulan terlambat untuk menempuh pendidikan di SMKN 3 Kota Banda Aceh. Meski begitu, Emilia masih tetap bisa melanjutkan pendidikan di sekolah yang diimpikannya itu. Keterlambatan itu disebabkan karena miss komunikasi yang menyebabkan Emilia sempat ditolak masuk ke sekolah negeri.

Namun, Syaridin tidak menyebut kalau Emilia ditolak masuk ke SMK itu. Ia berujar kalau ada miss komunikasi saja yang terjadi antara pihak kepala sekolah dan guru. Hal itu merupakan lumrah karena masih minimnya pemahaman dari guru.

"Namun setelah dijelaskan, akhirnya semua dapat menerimanya, dan Emilia bisa bersekolah di SMKN 3 Banda Aceh. Saya tidak tahu kronologis dari pertama (kasus Emilia)," kata Syaridin dalam jumpa pers usai mengantarkan Emilia masuk ke SMK Negeri 3 Kota Banda Aceh.

Ia mengungkapkan sebelumnya di SMKN 3 Banda Aceh juga terdapat satu orang anak berkebutuhan khusus yang mengambil jurusan tata boga. Dia menilai sekolah tersebut layak menerima siswa berkebutuhan khusus, meskipun memang belum banyak orangtua murid yang tahu.

"Kami dengar sejak kecil Emilia senang mendandani teman-temannya. Selama ini, Ananda Emilia juga sering mendandani anak-anak di sekitar rumahnya. Ini merupakan aset dan harus kami bina agar dia dapat mengembangkan keahliannya disini,” katanya.

Selain itu, ia meminta kepada seluruh anak berkebutuhan khusus, khususnya Emilia agar terus semangat belajar dan mengejar cita-citanya menjadi ahli kecantikan. Pemerintah Aceh dengan program Aceh Carong akan mendukung seluruh anak Aceh yang ingin menggapai cita-citanya sehingga akan terwujud Program Aceh Hebat.

Ia menjelaskan kalau Pemerintah Aceh telah menetapkan sebanyak 74 lembaga pendidikan dalam upaya untuk memenuhi pendidikan inklusi atau sekolah luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus di seluruh Aceh.

"Ini merupakan bentuk perhatian khusus pemerintah Aceh terhadap anak berkebutuhan khusus yang memiliki hak sama dengan siswa lain untuk mendapatkan layanan pendidikan," jelasnya.

Saat ini, lanjut Syaridin, pemerintah telah menyiapkan dua bentuk sekolah bagi seluruh calon siswa, yaitu sekolah regular dan sekolah luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus. Diharapkannya, kepada orang tua atau wali siswa dapat mendaftarkan anaknya di dua sekolah tersebut.

“Setiap tahunnya kami selalu mendapat penambahan, rata-rata dua unit sekolah sebagai sarana penyiapan penerimaan siswa berkebutuhan khusus di seluruh Aceh. Jika masih ada siswa berkebutuhan khusus yang tidak diterima atau tidak sekolah, maka kami siap untuk menfasilitasinya,” ujar kadisdik Aceh.

Khusus di Kota Banda Aceh, kata Syaridin, hingga saat ini telah ada sebanyak 39 sekolah jenjang SD, SMP dan SMA yang sudah mendapat Surat Keputusan (SK) untuk dapat menerima siswa berkebutuhan khusus. Namun dia menilai jumlah siswa yang mendaftar masih sangat minim dan jauh dari harapan, padahal pemerintah telah menjamin Pendidikan bagi anak-anak tersebut.

“Sebagai upaya pemerintah meningkatkan SDM, maka guru dari Sekolah Luar Biasa tersebut selalu mendapatkan pelatihan rutin sesuai dengan kebutuhannya. Dalam peningkatan sarana pembelajaran, pemeritah juga telah membangun beberapa sekolah yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus di seluruh Aceh,” jelasnya.

Pemerintah saat ini, lanjutnya telah memberikan penyamaan kedudukan bagi anak berkebutuhan khusus melalui SLB dan sekolah regular.

"Seluruh sekolah yang ada di Aceh wajib menerima jika ada siswa inklusi yang mendaftar di sekolah regular dan SLB," ujarnya.

Sementara itu, Dyah Erti Idawati, yang juga menjabat sebagai Dewan Penasehat di Lembaga Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus Aceh ini berharap agar kejadian yang dialami oleh Emilia menjadi sarana pembelajaran dan media kampanye kepada seluruh masyarakat, bahwa pendidikan inklusi telah mewajibkan sekolah umum untuk menerima ABK sebagai peserta didik.

"Insyaallah ini menjadi pembelajaran dan media kampanye bagi kita semua terkait penyelenggaraan pendidikan inklusi," ujarnya.

Ia meminta kepada Emilia harus terus semangat belajar dan mengejar cita-citanya menjadi ahli kecantikan. Pemerintah Aceh dengan program Aceh Carong tentu akan mendukung seluruh anak Aceh yang ingin menggapai cita-citanya.

HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...