Unduh Aplikasi

EDITORIAL: PIN dan TTG, Laba Diharap Malu Didapat

EDITORIAL: PIN dan TTG, Laba Diharap Malu Didapat
PIN dan TTG
Pekan Inovasi Perkembagan (PIN) Desa/kelurahan Nasional dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) ke 17 yang berlangsung dari tanggal 7-12 Oktober 2015, untuk tahun ini Provinsi Aceh yang bertindak sebagai tuan rumahnya, acara TTG ini dilaksanakan tepatnya di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Tujuan besar dari kegiatan ini adalah menampilkan hasil produksi, karya dan inovasi dari seluruh daerah yang ada di Indonesia. Yang didesain dengan menggunakan konsep pameran, dan tentu output besar dari kegiatan ini adalah dalam rangka mensukseskan program pembangunan dan berkolaberasi seiring dengan implementasi program alokasi Dana Desa di Indonesia.

Syahdan, dari informasi yang tersajikan di publik dana pelaksanaan program kegiatan ini menelan angka yang lumayan banyak, angka kegiatan ini berkisan antara 12-15 milyar rupiah, maklum saja acara kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang langsung diselenggarakan oleh Kementerian dari tingkat nasional, dan barang pasti sumber anggaranya juga berasal dan didukung dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN), sementara Provinsi Aceh yang bertindak sebagai tuan rumah juga harus mempersiapakan segala sesuatu untuk kesuksesan acara yang dimaksud termasuk menyediakan tempat dan keperluan lain yang berhubungan dengan kegiatan. Sementara untuk desain, dekorasi tempat, mobilitas dan fasilitas penunjang kegiatan ini ternyata semuanya disuppot oleh Event Organizer.

Event Organizer atau lebih dikenal dengan singkatan EO, dalam pengertiannya EO adalah suatu tatanan penyelenggaraan program yang bertujuan melakukan promosi dan telah diprogramkan atau dilakukan perencanaan serta evaluasi yang terperinci, singkatnya EO merupakan panitia pelaksana yang bertanggungjawab untuk kegiatan yang telah direncanakan, tentunya dengan adanya EO maka segala sesuatu yang berhubungan dengan rencana kegiatan diharapkan akan berjalan sempurna, dan tidak menimbulkan kegaduhan yang dapat mengagalkan acara yang telah direncanakan.

Dalam Pekan Inovasi Perkembagan (PIN) Desa/kelurahan Nasional dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) di Aceh, ternyata EO yang memenangkan tender untuk mengisi dan bertanggungjawab terhadap suksesnya acara tersebut berasal dari luar Aceh, nah disini mula terjadinya ploblem pertama dalam event tersebut, konon pihak EO yang memenangkan tender ini tidak mengakomodir keterlibatan EO dari lokal Aceh, padahal segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan nasional, maka hal pertama yang diharapkan adalah meningkatnya transaksi dan geliat roda ekonomi di wilayah kegiatan yang dilaksanakan, dan tingkat partisipasi lokal juga menjadi salah satu indikator suksesnya acara yang dimaksud.

Acara pembukaan Pekan Inovasi Perkembagan (PIN) Desa/kelurahan Nasional dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) di buka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri, seolah acara ini akan berjalan dengan sempurna, pihak EO pelaksana menampilkan acara yang sangat mewah, mulai dari fasilitas mobil pendukung konon untuk seluruh yang dipakai oleh pejabat adalah mobil merek ternama yaitu Alfad, tarian klosal tradisional Asal Aceh, ruang dan fasilitas disulap mewah, dan tentu itu semua dirancang untuk menambah daya tarik suksesnya acara.

Apalacur, seakan suksesnya hari pertama tidak berlangsung untuk agenda berikutnya, lihat saja fakta selanjutnya, setelah pembukaan selesai mulai muncul ploblem yang membuat peserta kegiatan mengeluhkan, bayangkan saja keluhan ini menjadi salah satu keluhan yang membuat Aceh sebagai tuan rumah acara menjadi malu dimata tamu yang hadir dalam even tersebut, mulai dari fasilitas tempat acara yang konon AC-nya saban waktu mati, WC yang tidak mendukung dan membuat peserta kebla-blakan, rental mobil yang harganya selangit dan tidak masuk akal sehat, harga makanan yang meroket, pintu gerbang untuk peserta dan tamu yang hanya dibuka hanya satu, padahal diketahui di stadion memiliki dua gerbang pintu utama dan luas, dan sudah barang tentu ini akan membuat Aceh sebagai provinsi yang sangat menghargai dan menghormati para tamu yang datang dari jauh menjadi malu, apalagi slogan yang dijadikan panutan oleh masyarakat Aceh bahwa Tamu Adalah Raja, tetapi jika dalam pelaksanaan kegiatan ini membuat para tamu kesusahan, maka jelas ini bertentangan dengan slogan masyarakat dan kebangaan rakyat Aceh.

Ploblem di atas bukan hanya terjadi selama Acara, sebagaimana catatan penulis menemukan fakta bahwa Pekan Inovasi Perkembagan (PIN) Desa/kelurahan Nasional dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) tidak banyak melibatkan media lokal, dan bahkan untuk promosinya sangat terbatas, lihat saja promosi acara ini hanya menempelkan spanduk dan baliho dibeberapa lokasi yang ada di Banda Aceh, sementara untuk iklan lain baik di media terbitan lokal maupu televisi dan radio konon ini tidak dilaksanakan, dan ini tentu menjadi tanda tanya besar, bahwa acara yang dilaksanakan untuk skala event nasional tapi promosi dan sosialisasinya sangat terbatas, dan ini patut diduga bahwa EO dengan sengaja membatasi padahal dari segi anggaran dipastikan biasa promosi dan sosialisasi acara sebesar ini mendapat fasilitas yang lumayan tinggi.

Pemerintah Aceh sebagai unsur perwakilan masyarakat harus berani meminta pertangungjawaban kepada EO pelaksana, ploblem yang muncul selama agenda acara harus dimintai pertanggungjawaban dan bahkan kalau perlu meminta ganti rugi kepada EO pelaksana, apalagi akibat kebroblokan acara telah memuat Aceh menanggung malu, dan ini semua terjadi akibat dari kelemahan dari SKPA yang diberi mandat oleh Pemerintah Aceh yang gagal melakukan loby supaya setiap event yang berlangsung di Aceh maka wajib hukumnya melibatkan EO dari lokal, apalagi kita ketahui bahwa EO yang berasal dari Aceh saat ini tersedia cukup banyak dan bahkan tidak kalah dengan mereka yang berasal dari luar Aceh.

Aceh, sebagai sebuah provinsi yang kini mulai mengeliat dan maju, harus berani menetang kebijakan yang tidak sejalan dengan kepentingan publik, apalagi dalam memfasilitasi kegiatan nasional, SKPA yang diberi mandat harus berani menetang jika untuk even pelaksananya dibebankan kepada pihak luar, padahal kita ketahui setiap even yang dilaksanakan tujuannya adalah memaju roda ekonomi ditingkat lokal, dan jika kita hanya menjadi penonton dirumah sendiri, sementara fasilitas dan kemampuan warga lokal mampuni maka ini jelas kegagalan dan kesalahan yang tak bisa dipungkiri, bak kata pepatah Aceh... Buya krueng tahe teudong-dong, Buya tamoeng meuraseuki...Wallahualam bissawaf!!!

|REDAKSI

Komentar

Loading...