Duka Keluarga Mulyadi di Pagi Buta

Duka Keluarga Mulyadi di Pagi Buta
Kondisi rumah keluarga Mulyadi yang disapu arus sungai Kreung Pase di Desa Tanjung Mesjid, Kecamatan Samudera Aceh Utara,

ACEH UTARA - Mulyadi Sulaiman (48) dan Khatijah (34) memegang erat tangan empat buah hatinya di bawah hujan deras. Mereka hanya bisa pasrah melihat rumah dinding papan beratap daun rumbia milik mereka terbawa luapan air sungai Krueng Pase di Desa Tanjung Mesjid, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Sabtu (2/12).

Bola mata berkaca-kaca masih tampak jelas di raut keluarga itu, tak ada satupun harta benda yang mampu mereka selamatkan dari terjangan arus yang mampu menjebolkan tanggul Krueng Pase pagi buta itu. Hanya sepasang baju basah kuyup yang tersisa di tubuh mereka.

“Tak ada satu harta benda yang mampu kami selamatkan saat rumah kami di bawa arus sungai Kreung Pase, kami hanya mampu menyelamatkan empat buah hati kami yang masih kecil-kecil,” kata Mulyadi kepada AJNN, Sabtu (2/12).

Mulyadi menceritakan, sekira pukul 5.00 WIB, bantaran sungai Krueng Pase jebol dan menghantam rumah mereka yang berada tak jauh dari bantaran aliran tersebut.

“Saat air sungai mulai menghantam rumah kami, kami sekeluarga berusaha berusaha keluar rumah dengan menggendong ke empat anak-anak kami yang terus menangis sambil mencari dataran yang lebih tinggi dengan melalui hujan deras dan gerusan air sungai yang tajam pagi itu,” ujar Mulyadi.

Ayah empat anak itu tak kuasa untuk berbuat apa-apa dalam gelap pagi buta itu.

“Jangankan untuk menyelamatkan harta benda dalam rumah, keluar dari derasnya arus aliran sungai saja, kami sekeluarga sangat susah pagi itu,” ujarnya.

Dirinya menyebutkan, di kawasan tersebut hanya rumah gubuk miliknya saja yang dibawa air aliran sungai tanpa tersisa.

Akibat jebolnya sungai Krueng Pase, kurang lebih 10 meter lebih bantaran sungai abis terkikis, karena hingga saat ini bendungan tersebut tak kunjung selesai dikerjakan.

“Tentu ini menjadi ancaman besar bagi warga Desa Tanjung Mesjid dan sekitarnya bila intensitas hujan terus tinggi,” imbuhnya.

Sejauh ini sebut Mulyadi, warga memilih mengungsi ke darataran lebih tinggi dan rumah sanak famili mereka dan sebahagian memilih menempati Meunasah serta barak pengungsian yang disediakan BNPB dan Pemkab Aceh Utara.

“Rata-rata rumah di sini tidak bisa lagi dihuni, warga hanya memilih menjaga rumah mereka pada siang harinya untuk mengantisipasi hal-hal yang tak di inginkan,” tuturnya.

Menurut data yang terakhir yang diperoleh AJNN dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, bencana alam banjir akibat curah hujan tinggi di Kabupaten Aceh Utara, sehingga meluapnya sungai Kreung Keureuto, Pirak, Peuntoe, Kreung Pase, Buloh dan Sungai Jambo Aye.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara, Munawar mengatakan, ketinggian air rata-rata mencapai 150 centimeter, dengan tiga titik lokasi pengungsian antara lain, Kecamatan Matangkuli, Pirak Timu dan Syamtalira Aron.

“Sesuai data terakhir jumlah pengungsian secara keseluruhan mencapai 1,567 kepala keluarga (KK) 6.369 jiwa,” kata Munawar melalui pers rilisnya Minggu (3/12).

Munawar menambahkan, selain merendam rumah warga, air juga ikut merendam ratusan hektar sawah milik petani di beberapa kecamatan dalam Kabupeten Aceh Utara.

Sejauh ini pihak BPBD sudah mengerahkan petugas dan rubber boat fiber empat unit ke lokasi bencana dengan melibatkan, tim SAR, TNI/Polri, Rapi, IPSM dan Tagana serta instansi terkait lainya dalam kedaan siaga.

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...