Unduh Aplikasi
WTP Pemerintah Aceh 2019

Dr Amri: Indeks Daya Saing Aceh Rendah

Dr Amri: Indeks Daya Saing Aceh Rendah
Diskusi Publik Komunitas Titik Temu

BANDA ACEH - Komunitas Titik Temu menyelenggarakan diskusi publik dengan mengusung tema proyek strategis nasional dan indeks daya saing Aceh dengan menghadirkan tiga akademisi, meliputi Dr. Amri, S.E., M.Si sebagai Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah (Unsyiah) yang juga Direktur Center for Public Policy and Development Studies (CPDS), Dr. Eddy Gunawan M.Ec sebagai Ketua Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah dan Irham Fahmi SE, M.Si yang juga merupakan Dosen Muda Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah.

Diskusi publik yang diselenggarakan dengan bekerjasama dengan HMI Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah pada jJumat Kemarin itu dilatarbelakangi oleh hasil penelitian Dr. Amri, S.E., M.Si tentang indeks daya saing provinsi-provinsi di Indonesia.

Berdasarkan temuan penelitian Dr. Amri, S.E., M.Si, untuk tahun 2016 indeks saya saing Provinsi Aceh berada pada peringkat ke-26 dari 33 Provinsi di Indonesia (Kalimantan Utara tidak masuk perhitungan - red).

Sementara peringkat pertamanya adalah Provinsi DKI Jakarta (1) dan posisi paling bawah adalah Provinsi Bengkulu (33). Kondisi ini serupa dengan apa yang terjadi pada tahun 2015, indeks daya saing Provinsi Aceh berada pada peringkat 26 dan peringkat 28 pada tahun 2014.

Menurut Dr. Amri yang juga Sekretaris Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Unsyiah tahun 2010-2015, untuk bidang pemerintahan dan institusi publik di provinsi Aceh ditandai dengan rendahnya indeks daya saing Aceh disebabkan oleh tingkat korupsi yang tinggi, akuntabilitas yang rendah, tingkat efisiensi, pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) yang amburadul, koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota yang lemah serta kapasitas kepemerintahan provinsi yang lemah.

Untuk bidang kondisi keuangan dan tenaga kerja, hal ini ditandai dengan rendahnya daya saing di bidang keuangan, bisnis dan tenaga kerja disebabkan oleh rendahnya kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di perusahaan, baik tidak menyalurkan kredit usaha mikro ke sumber riil, tingkat pengangguran masih tinggi dan tingkat produktivitas secara keseluruhan di provinsi aceh juga masi rendah.

Untuk bidang kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur, hal ini ditandai dengan daya saing di bidang infrastuktur disebabkan oleh kualitas infrastruktur fisik yang rendah, jalan tol belum ada, kualitas infrastruktur teknologi informasi di gampong-gampong/pedesaan relatif belum tersedia. Sementara kualitas hidup, pendidikan, dan stabilitas sosial juga masih rendah disebabkan oleh kualitas hidup, pendidikan yang rendah, dan kualitas lingkungan hidup juga rendah.

Untuk bidang stabilitas ekonomi makro, dari 18 indikator yang diteliti Indek daya saing di bidang stabilitas ekonomi makro/perekonomian aceh ditandai dengan ekspor lebih rendah dibbandingkan dengan impor, keterbukaan perdagangan denga luar negeri Serta rendahnya penanaman modal asing (investor) serta tidak ada promosi yang gencar dalam pengelolaan investasi dan Rendahnya penanaman modal domestik atau investor dalam negeri.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...